<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Muliakan Diri Dengan Sunnah</title>
	<atom:link href="http://abualbinjy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abualbinjy.wordpress.com</link>
	<description>Menghiasi Kehidupan Diatas Manhaj Ahlusunnah Wal Jama'ah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Nov 2009 09:26:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abualbinjy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8e0318e2a13c839336802f8b457ecbcb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Muliakan Diri Dengan Sunnah</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 09:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman. 
Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.
Hukum Shalat ‘Ied
Menurut pendapat yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=466&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Hukum Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah <span style="text-decoration:underline;">wajib bagi setiap muslim</span>, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn1">[1]</a>. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَمَرَنَا &#8211; تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- &#8211; أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn3">[3]<span id="more-466"></span></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terus menerus melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).</em>” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah <span style="text-decoration:underline;">pendapat yang lemah</span>. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. &#8230; Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn5">[5]</a> sampai waktu <em>zawal</em> (matahari bergeser ke barat).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasa</em> mengakhirkan shalat &#8216;Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat &#8216;Idul Adha. Ibnu ‘Umar  yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn8">[8]</a><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">[2] Di antara lafazh takbir adalah,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “<em>Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar</em>”, itu juga diperbolehkan.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima</strong>: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?” Ia menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keenam</strong>: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketujuh</strong>: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “<em>Ash Sholaatul Jaam’iah</em>.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tata Cara Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn28">[28]</a> Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii </em>(Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa membaca “<em>Qaaf, wal qur’anil majiid</em>” (surat Qaaf) dan “<em>Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar</em>” (surat Al Qomar).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “<em>Sabbihisma robbikal a’la” </em>(surat Al A’laa)<em> </em>dan<em> “Hal ataka haditsul ghosiyah” </em>(surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima</strong>: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keenam</strong>: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketujuh</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedelapan</strong>: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesembilan</strong>: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Khutbah Setelah Shalat ‘Ied </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ &#8211; رضى الله عنهما &#8211; يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn32">[32]</a> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn33">[33]</a> Beliau pun memulai khutbah dengan “<em>hamdalah</em>” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn34">[34]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”</em><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn35">[35]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Ucapan Selamat Hari Raya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (<em>tah-niah</em>) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “<em>Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika</em>” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “<em>Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya</em>”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin  mengucapkan selamat, maka ia memiliki <em>qudwah</em> (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki <em>qudwah</em> (contoh).”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari hal ini adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [<em>ashobas sunnah</em>].”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn37">[37]</a> Jika sahabat mengatakan <em>ashobas sunnah</em>(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn38">[38]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn39">[39]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “<em>sabbihisma robbikal a’la” </em>dan<em> “hal ataka haditsul ghosiyah”</em>.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn40">[40]</a> Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn41">[41]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Diselesaikan di Pangukan, Sleman, di hari yang baik untuk beramal sholih, 7 Dzulhijah 1430 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’</em>, Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmoul, hal. 109-110, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1427 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim  no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref3">[3]</a> Kami sarikan dari <em>Ar Roudhotun Nadiyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah</em>, 1/202, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/183, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref5">[5]</a> Yang dimaksud, kira-kira 2o menit setelah matahari terbit sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam <em>Syarh Hadits Al Arba’in An Nawawiyah</em> yang pernah kami peroleh ketika beliau membahas hadits no. 26.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/599 dan <em>Ar Roudhotun Nadiyah,</em> 1/206-207.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref7">[7]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/425, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al Arnauth]</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Minhajul Muslim</em>,  Abu Bakr Jabir Al Jaza-iri, hal. 201, Darus Salam, cetakan keempat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref9">[9]</a> HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Syarh Muslim</em>, An Nawawi, 3/280, Mawqi’ Al Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref11">[11]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Ahmad 5/352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/602.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref15">[15]</a> Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini <em>shahih</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref16">[16]</a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/279). Hadits ini hasan. Lihat <em>Al Irwa’ </em>(3/123)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref17">[17]</a> Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/220, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref18">[18]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref19">[19]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari no. 977.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari no. 986.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref22">[22]</a> HR. Ibnu Majah no. 1295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref23">[23]</a> HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Muslim no. 887.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref25">[25]</a> <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref26">[26]</a> Kami sarikan dari <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref27">[27]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref28">[28]</a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/291). Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>qowiy </em>(kuat). Lihat <em>Ahkamul ‘Idain, </em>Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, hal. 21, Al Maktabah Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1405 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref29">[29]</a> HR. Muslim no. 891</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref30">[30]</a> HR. Muslim no. 878.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref31">[31]</a> HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref32">[32]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref33">[33]</a> Lihat keterangan dari Ibnul Qayyim dalam <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425. Yang pertama kali mengeluarkan mimbar dari masjid ketika shalat ‘ied adalah Marwan bin Al Hakam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref34">[34]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref35">[35]</a> HR. Abu Daud no. 1155 dan Ibnu Majah no. 1290. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref36">[36]</a> HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310. Asy Syaukani dalam <em>As Sailul Jaror</em> (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam <em>Al Majmu’</em> (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam <em>Al Ahkam Ash Shugro</em> (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam <em>Al Istidzkar</em> (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam <em>Al Ajwibah An Nafi’ah</em> (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.  Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref37">[37]</a> HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref38">[38]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/596.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref39">[39]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref40">[40]</a> HR. Muslim no. 878.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref41">[41]</a> Lihat <em>Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’</em>, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=466&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Ibnu Jibrin Dalam Ingatanku</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/16/syaikh-ibnu-jibrin-dalam-ingatanku/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/16/syaikh-ibnu-jibrin-dalam-ingatanku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 10:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Penulis DR.Muhammad bin Abdillah Al Habdan
Ya Subhanallah…dihari dilahirkannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (sebagaimana pendapat kebanyakan ahli sejarah) dan dihari wafatnya juga, telah wafat juga pada hari sama seorang yang mulia Syaikh kami, Al Allamah Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin.Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam wafat disaat dhuha di hari senin,sedangkan Syaikh kami wafat disaat dzuhur dihari senin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=462&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Penulis DR.Muhammad bin Abdillah Al Habdan</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ya Subhanallah</em>…dihari dilahirkannya Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> (sebagaimana pendapat kebanyakan ahli sejarah) dan dihari wafatnya juga, telah wafat juga pada hari sama seorang yang mulia Syaikh kami, <em>Al Allamah</em> Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin.Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> wafat disaat dhuha di hari senin,sedangkan Syaikh kami wafat disaat dzuhur dihari senin bertepatan dengan 20 Rajab 1430H…seolah-olah ini suratan tersamar bagi umat agar bersabar atas musibah ini. Karena jika perginya Syaikh adalah musibah besar, maka wafatnya Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> tentu lebih besar lagi.Maka siapapun yang merasakan musibah ini,hendaklah ingat akan Rasulullah <em>‘alaih sholatu wassalam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Betul, bahwasannya para ulama adalah pewaris para Nabi,dan musibah kehilangannya adalah musibah besar.Bukan sebab dzat tubuhnya,namun karena sebab hilangnya ilmu bersamaan wafatnya mereka.Anas <em>radhiallahu ‘anhu </em>menceritakan: Berkata Abu Bakar kepada Umar setelah wafatnya Rasul<em> shalallahu ‘alaihi wasalam</em> ,”Pergilah dengan kami mengunungi Ummu Aiman,kita kunjungi dia sebagaimana Rasulullah <em>shalallah ‘alaihi wasalam</em> biasa mengunjunginya.Pada saat keduanya sampai ,Ummu Aiman menangis kemudian mereka berdua berkata padanya ,”Apa yang membuat engkau menangis?” <span id="more-462"></span>Apa yang disisi Allah adalah kebaikan kepada Rasulullah<em> shalallahu ‘alaihi wasalam</em>!! Maka berkatalah Ummu Aiman :”Saya tidak menangis karena tidak tahu bahwa apa yang disisi Allah adalah kebaikan bagi Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em>,tapi saya menangis karena wahyu telah terputus dari langit!!Maka menangislah Abu Bakar dan Umar bersama Ummu Aiman</p>
<p style="text-align:justify;">Wanita sederhana ini merasakan berharganya wahyu ilahi,maka bagaimana kita tidak merasakan nilai para ulama yang mereka laksana bintang dilangit…juga perhiasan di dunia.Kematian mereka adalah keretakan sebagaimana ucapan Al Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> :”Mereka berkata kematian ulama keretakan dalam islam,tidak dapat menambalnya sesuatupun sepanjang pergantian siang dan malam”</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya kami semua menangisi kepergian guru kami,Syaikh Ibn Jibrin..Kami memangisi ilmu yang hilang bersama kami,kami menangis seorang yang mulia,kami menangisi ketawadh’uan beliau yang luar biasa,kami menangisi kezuhudan dan takwanya,kami menangisi tabir kecongkakan di wajah para ahli syubhat dan syahwat dengan kepergian Syaikh</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> kajian-kajian Syaikh di Jami’ul Kabir sebelum robohnya tempat itu sekarang</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> tatkala aku hendak mencium kepalanya,beliau meletakkan tangan kanannya dipundakku untuk menahanku agar tidak melakukannya.Bahkan menahan kebanyakan dari  dari tholabul ilmi ..</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> sikap beliau bersama <em>Al Allamah</em> Abdurrahman Al Barrak,mereka berdua berebut ingin mencium kepala satu sama lain,dengan penuh kerendahan hati dan kasih sayang…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> bantuan-bantuan beliau kepada banyak ulama dan para pelajar dengan tandatangan beliau yang dapat membantu menyelesaikan keperluan-keperluan mereka..</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana aku lupa dengan sebuah Daurah Ilmiah  yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Al’Izz bin Abdissalam dimana  diantara pengisinya adalah Syaikh Ibn JIbrin<em> rahimahullah</em>,beliau tiba disana sebelum para pelajar datang  dan terkadang kami duduk bersama beliau hingga datang sejumlah pelajar ilmu  kemudian barulah dimulai pelajaran Kitabul Iman dari shahih Bukhari!!Beliau tidak gundah dengan sedikitnya yang hadir…Beliau tinggal di selatan kota Riyadh sedangkan kami tinggal di sebelah timur selama sepekan penuh saat itu</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa </em></strong>rumah beliau yang ramai, tatkala aku berkunjung setelah shalat ashar ,dan aku mendapati banyak orang disana terus bertambah satu  demi satu..masing-masing mereka memilki keperluan pribadi….dan Syakh menghadapi mereka dengan dada yang lapang dan penuh perhatian!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku  tidak pernah lupa</em></strong> Syaikh yang pergi dari satu mesjid ke mesjid lain untuk menyampaikan ceramah ilmiah dan para<em> tholabul ilmi</em> mengikutinya kemana Syaikh berpindah…beliau melakukannya tanpa mengeluh atau bosan dari awal siang sampai akhir siang!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> akan kepala beliau yang sesekali tertunduk-tunduk ,sampai aku katakan didalam hati mungkin Syaikh mengantuk hingga tertidur tanpa beliau rasa.Padahal tertunduknya Syaikh,sedang  berusaha membenarkan bacaan muridnya.Apabila sebelasai muridnya membaca matan kitab, dilanjutkan menjelaskan syarah nya dengan hapalan beliau yang luar biasa kuat..hingga kami merasa ajaib akan banyak nya pelajaran yang beliau isi serta berbagai jenis cabang ilmu …aku katakan didalam hati kapan Syaikh Jibrin dapat menghadirkan ingatannya pada semua pelajaran beliau, padahal semuanya dimulai dari subuh sampai sore hari!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Aku tidak pernah lupa</em></strong> beliau berbicara dan mengulas sejumlah <em>nash-nash syar’iy</em> serta bait-bait sastra dengan hapalannya  seolah -olah beliau melihat secara langsung dengan matanya kemudian memilih apa yang hendak dinukil atau tidak sekehendaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami menyaksikan bahwasannya Syaikh telah menghabiskan waktunya untuk dakwah kepada Allah dan mengajar berbagai ilmu di pelosok negeri yang berkah ini ditimur maupun di barat…dan kami tidak mensucikan seseorangpun dihadapan Allah.Ya Allah ganjarlah kami dalam musibah ini dan gantikanlah dengan kebaikan ..ampunilah Syaikh kami ini dan tempatkanlah di surgamu yang luas Ya <em>Rabbil Alamin</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber :Makalah berjudul <a href="http://islamlight.net/alhabdan/index.php?option=content&amp;task=view&amp;id=14376&amp;Itemid=14">Al Allamah Ibn Jibrin Faqidul Ummah</a> oleh Syaikh DR.Muhammad bin Abdullah Al Habdan.</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : www.direktori-islam.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=462&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/16/syaikh-ibnu-jibrin-dalam-ingatanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bakti Seorang Ulama Buta  Kepada Ibunya</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/12/bakti-seorang-ulama-buta-kepada-ibunya/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/12/bakti-seorang-ulama-buta-kepada-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak[1] adalah salah seorang ulama negeri saudi saat ini.Saya ingin menyebutkan kisah betapa berbaktinya Syaikh kami terhadap ibundanya dan Syaikh hafidzahullah telah mencontohkan teladan yang sungguh ajaib dalam berbakti,terkhusus di zaman sekarang ini.Ibunda Syaikh telah wafat sekitar 5 tahun silam.Saya akan menyebutkan beberapa kisah dalam beberapa point berikut tanpa perincian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=459&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak<a href="http://www.direktori-islam.com/2009/08/bakti-seorang-ulama-buta-pada-ibundanya/#_ftn1">[1]</a> adalah salah seorang ulama negeri saudi saat ini.Saya ingin menyebutkan kisah betapa berbaktinya Syaikh kami terhadap ibundanya dan Syaikh <em>hafidzahullah</em> telah mencontohkan teladan yang sungguh ajaib dalam berbakti,terkhusus di zaman sekarang ini.Ibunda Syaikh telah wafat sekitar 5 tahun silam.Saya akan menyebutkan beberapa kisah dalam beberapa point berikut tanpa perincian yang luas:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.</strong>Syaikh Abdurrahman Al Barrak <em>hafidzahullah</em> dikenal hanya sedikit pergi haji.Sebabnya adalah tidak adanya persetujuan ibundanya <em>rahimahallah</em>.Beliau mulai berhaji lagi sejak Ibunya lemah ingatannnya dan bercampurnya sebagian hal sehingga menjadi  memberikan izin baginya untuk pergi haji<span id="more-459"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.</strong>Syaikh Al Barrak tidak pergi safar kecuali setelah diberi izin ibundanya.Suatu waktu,terjadi suatu permasalah di kampung halaman beliau di Albakiriyah daerah Al Qosim.Penduduk daerah tersebut meminta Syaikh untuk datang agar membantu menyelesaikan masalah tersebut karena kedudukan Syaikh yang berpengaruh dikalangan mereka.Maka Syaikh menyetujuinya untuk pergi asalkan dengan syarat jika diizinkan Ibunya.Maka sebagian sebagian saudara ibunya berbicara kepada Ibu Syaikh ,dan karena segan maka kemudian diizinkanlah Syaikh Al Barrak.Setelah saudara-saudara Ibunya pergi,maka sang Ibu berkata pada Syaikh Abdurahman bin Nashir Al Barrak :”Saya menyetujuinya karena mereka terus menerus meminta padaku”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.</strong>Syaikh Abdurrahman dalam safarnya ke Mekah dalam liburan musim panas tidaklah terputus dari menelepon ibunya. Tidak kurang dari dua kali menelepon ibunya dalam sehari.Bahkan beliau sempat memutuskan  pelajaran yang sedang disampaikan dimana saat itu kami sedang membacakan kitab pada beliau di Masjidil Haram ,Syaikh menelepon ibunya dan kemudian disambung lagi pelajaran saat itu</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.</strong>Ibunda Syaikh tidaklah terus menerus tinggal bersama Syaikh.Berpindah-pindah,terkadang tinggal di rumah Syaikh namun terkadang di rumah anaknya yang lain (saudara kandung Syaikh).Tatkala tinggal dirumah Syaikh ,maka Syaikh Al Barrak tidak tidur dengan istrinya,tapi tidur bersama Ibunya dikamar Ibunya dengan maksud siap sedia memenuhi segala permintaan Ibunya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.</strong>Diantara bentuk memenuhi hajat Ibunya,adalah Syaikh Al Barrak senantiasa berdiri menuntun memegangi tangan ibunya,karena Ibunya sudah lambat dalam berjalan.Syaikh mengantar untuk pergi ke kamar mandi sampai ibunya duduk dikursi khusus baginya.Kemudian Syaikh menunggu hingga ibunya menyelesaikan keperluannya di kamar mandi,setelah itu Ibunya diantar lagi ketempat semula.Ini semua dilakukan Syaikh,walaupun ada anak-anak perempuan Syaikh dan istrinya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.</strong>Diantara bentuk bakti yang lain, Syaikh Abdurrahman Al Barrak <em>hafidzahullah</em> tidak pernah memutus kebiasaan Ibunya.Saya pernah membaca kitab dihadapan beliau disuatu hari dipelataran rumah beliau dipintu masuk khusus laki-laki.Pelajaran yang disampaikan Syaikh di sore hari biasanya tidak terputus kecuali apabila terdengar adzan maghrib.Tatkala menjelang adzan maghrib beliau meminta saya keluar dari rumah.Ini bukanlah kebiasaan Syaikh sebelumnya.Setelah Isya tiba-tiba Syaikh meneleponku di rumah,beliau meminta maaf dari kejadian dihari itu dan memberitahu bahwa dilakukannya hal tersebut karena Ibunya punya kebiasaan berwudhu untuk shalat maghrib di keran air disebelah pintu dimana kami tadi berada.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.</strong>Syaikh Al Barrak sangat memperhatikan keinginan Ibunya.Adalah kebiasaan Syaikh bermajlis dengan tamu-tamunya hingga adzan tiba kemudian mereka keluar untuk sholat.Namun jika sedang ada ibunya ,maka Syaikh akan berdiri sebelum adzan tiba karena hal ini kesukaan Ibunya yang sholehah</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8.</strong>Tatkala semakin parah sakit yang dialami ibunya,maka Syaikh berusaha mengobatinya,beliau tidur bersamanya serta memberinya makanan dan minuman.Bahkan Syaikh kami ini apabila selesai sholat shubuh dari masjid,beliau menyiapkan minuman ,kemudian memberikannya kepada Ibunya,atau terkadang mendinginkan minuman tersebut untuk ibunya.Semua ini dilakukan beliau dengan keadaan beliau yang buta matanya.Setelah itu beliau kembali ke masjid untuk menyampaikan kajian shubuh</p>
<p style="text-align:justify;">Disarikan dari tulisan Abu Muhammad Al Qohthoni di forum <a href="http://www.ahlalhdeeth.com/">http://www.ahlalhdeeth.com</a> dengan sedikit penambahan</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.direktori-islam.com/2009/08/bakti-seorang-ulama-buta-pada-ibundanya/#_ftnref1">[1]</a> Usia Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak<em> hafidzahullah</em> saat ini 78 tahun.Beliau sudah menjadi  yatim sejak balita,yakni saat umur setahun.Diusia 10 tahun beliau terkena penyakit dimatanya sehingga tidak bisa melihat sampai saat ini.Diantara guru beliau yang sangat berpengaruh adalah <em>Al Allamah Asy Syaikh</em> Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, dimana lebih dari 50 tahun belajar dengan beliau <em>rahimahullah.</em>Syaikh Ibn Baz seringkali meminta beliau untuk masuk lembaga fatwa namun ditolaknya.Syaikh bin Baz pun ridho pada Syaikh Al Barrak untuk menggantikannya berfatwa di Darul Ifta di Riyadh di saat musim panas tatkala para mufti pindah tempat ke kota Thaif, Syaikh Nashir Al Barrak ini dengan malu memenuhinya,namun itu dilakukan hanya dua kali,setelah itu ditinggalkannya.Setelah wafat Syaikh Bin Baz, seringkali Syaikh Alu Syaikh mufti sekarang meminta dengan sangat agar beliau menjadi anggota <em>lajnah ifta</em> namun beliau keberatan untuk memutus pelajaran yang biasa beliau sampaikan di masjid.v</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=459&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/12/bakti-seorang-ulama-buta-kepada-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Al Albani : Ahli Hadits Yang Terdzalimi</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/10/syaikh-al-albani-ahli-hadits-yang-terdzalimi/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/10/syaikh-al-albani-ahli-hadits-yang-terdzalimi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 10:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Dewasa ini kecintaan dan penghormatan terhadap ulama sangat minim sekali, bahkan betapa derasnya hujan celaan, penghinaan, kedustaan dan tuduhan pada mereka, baik karena faktor kejahilan, hawa nafsu, fanatik madzhab, cinta popularitas atau mungkin karena semua faktor tersebut!!.[1]
Seperti halnya para ulama Salaf lainnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani tak luput dari serbuan celaan, hinaan dan tuduhan. Beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=456&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Dewasa ini kecintaan dan penghormatan terhadap ulama sangat minim sekali, bahkan betapa derasnya hujan celaan, penghinaan, kedustaan dan tuduhan pada mereka, baik karena faktor kejahilan, hawa nafsu, fanatik madzhab, cinta popularitas atau mungkin karena semua faktor tersebut!!.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya para ulama Salaf lainnya, <strong>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani</strong> tak luput dari serbuan celaan, hinaan dan tuduhan. Beliau sendiri pernah berkata:</p>
<blockquote><p>“Aku banyak dizhalimi oleh orang-orang yang mengaku berilmu, <strong>bahkan sebagian di antara mereka ada yang dianggap bermanhaj Salaf seperti kami</strong>. Namun <em>-kalau memang benar</em><em> demikian-</em> berarti dia termasuk orang yang hatinya terjangkit penyakit hasad dan dengki.”<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn2">[2]</a></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Semua itu tidaklah aneh, karena memang setiap orang yang mengajak manusia kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat, pasti mendapatkan resiko dan tantangan dakwah. Alangkah bagusnya perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُوْدِيَ</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak ada seorang pun yang </em><em>datang dengan mengemban</em><em> ajaranmu kecuali akan dimusuhi.”<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi percaya atau tidak, semua celaan dan tuduhan dusta tersebut tidaklah membahayakan dan menggoyang kursi kedudukan Syaikh al-Albani t, bahkan sebalik-nya, sangat membahayakan nasib para pencela beliau sendiri.</p>
<blockquote><p><strong>يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِيْ لِيَكْلِمَهُ</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ</strong></p>
<p><em>Hai orang yang akan menabrak gunung tinggi untuk menghancurkannya</em></p>
<p><em> <strong>Kasihanilah kepala anda</strong>, jangan kasihan pada gunungnya<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn4"><strong>[4]</strong></a>.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, izinkanlah kami untuk memberikan sedikit komentar tentang beberapa omongan  di atas.<span id="more-456"></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Al-Albani berpemahaman murji’ah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan ini bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Terlalu banyak bukti-bukti untuk membantah tuduhan ini, karena Syaikh al-Albani telah menjelaskan secara gamblang aqidah beliau dalam banyak tulisannya yang sangat bersebrangan dengan aqidah murji’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah bagusnya ucapan beliau tatkala mengatakan: “Demikianlah yang saya tulis semenjak dua puluh tahun silam lamanya dengan membela aqidah salaf Ahli Sunnah wal Jama’ah -segala puji hanya bagi Alloh-. <strong>Namun pada hari ini, bermunculan anak-anak kemarin sore yang jahil seraya menuduh kami dengan pemahaman murji’ah!! Hanya kepada Alloh kita mengadu dari jeleknya perilaku mereka berupa kejahilan dan kesesatan!!”.</strong> <a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan ini juga telah dibantah oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah yang sezaman dengan beliau. <strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz </strong>pernah ditanya tentang tuduhan murji’ah kepada Syaikh al-Albani, lalu beliau menjawab:</p>
<blockquote><p>“<strong>Syaikh Nasiruddin al-Albani</strong> termasuk di antara saudara-suadara kami yang terkenal dari ahli hadits dan ahli sunnah wal Jama’ah. Kita memohon kepada Alloh bagi kita dan beliau taufiq untuk segala kebajikan.</p>
<p>Sewajibnya bagi setiap muslim untuk takut kepada Alloh terhadap para ulama dan tidak berbicara kecuali di atas ilmu”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga <strong>Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin</strong>, beliau membantah tuduhan ini dengan kata-kata yang indah: <strong> </strong></p>
<blockquote><p><strong>“Barangsiapa menuduh Syaikh al-Albani dengan pemahaman murjiah maka dia telah keliru, mungkin dia tidak mengenal al-Albani atau tidak mengetahui paham irja’!!</strong></p>
<p>Al-Albani adalah seorang ahli Sunnah, pembelanya, imam dalam hadits, kami tidak mengetahui seorangpun yang menandinginya pada zaman ini<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn6">[6]</a>, tetapi sebagian manusia -semoga Alloh mengampuninya- memiliki kedengkian dalam hatinya, sehingga tatkala melihat seorang yang diterima manusia, dia mencelanya seperti perbuatan orang-orang munafiq:</p>
<p><em>(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya.</em></p>
<p>(QS. at-Taubah [9]: 79)<em> </em></p>
<p>Mereka mencela orang yang bersedekah, baik sedekah dalam jumlah yang banyak maupun sedikit.</p>
<p>Al-Albani yang kami kenal melalui kitab-kitabnya dan duduk bersamanya -kadang-kadang- adalah seorang yang beraqidah salaf, manhajnya bagus, <strong>tetapi sebagian manusia yang ingin mengkafirkan hamba-hamba Alloh dengan hal yang tidak dikafirkan oleh Alloh, lalu dia menuduh orang yang menyelisihi mereka dalam <em>takfir</em> sebagai orang murji’ah secara dusta dan bohong. Oleh karena itu, janganlah kalian mendengarkan tuduhan ini dari siapapun orangnya”.</strong><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn7">[7]</a></p></blockquote>
<blockquote><p>إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا           فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ</p>
<p><em>Apabila Hadhami berucap maka benarkanlah</em></p>
<p><em>Karena kebenaran pada dirinya.</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Al-Albani tidak mengerti fiqih</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi ucapan yang terlontar untuk mencela al-Albani, katanya:</p>
<blockquote><p><strong>Memang al-Albani jago dalam masalah hadits, tetapi masalah fiqih,  beliau miskin!!</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh ini merupakan kejahilan yang amat sangat dan ucapan seperti ini tidak lain kecuali hanya keluar dari mulut orang-orang yang jahil atau dengki<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn8">[8]</a>.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Aduhai, wahai para pencela ulama, apakah engkau lebih mengerti tentang fiqih hadits daripada orang yang engkau cela?! Bercerminlah terlebih dahulu dan simaklah bersamaku kisah berikut yang semoga bisa menjadikan pelajaran berharga bagi kita bersama:</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Al-Khothib al-Baghdadi</strong> menceritakan dari <strong>Abdulloh bin Hasan al-Hisnajani</strong>:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Saya pernah di Mesir, saya mendengar seorang hakim mengatakan di Masjid Jami’: “<strong>Ahli hadits adalah orang-orang miskin yang tidak mengerti fiqih</strong>!!”.</p>
<p>Saya -yang saat itu kurang sehat- mendekati hakim tersebut seraya mengatakan: “Para sahabat Nabi berselisih tentang luka pada kaum lelaki dan wanita, lantas apa yang dikatakan Ali bin Thalib, Zaid bin Tsabit  dan Abdulloh bin Mas’ud?”</p>
<p>Hakim tersebut lalu diam seribu bahasa.</p>
<p>Kemudian saya katakan padanya:</p>
<p>“Tadi engkau mengatakan bahwa ahli hadits tidak mengerti fiqih, sedangkan <strong>saya saja orang ahli hadits yang rendah</strong> menanyakan hal ini kepadamu namun <strong>engkau tidak mampu menjawabnya</strong>, lantas bagaimana engkau menuding bahwa ahli hadits tidak mengerti, padahal <strong>engkau sendiri saja tidak mengerti</strong>?!! <a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn9">[9]</a></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh, barangsiapa membaca kitab-kitab al-Albani dengan adil dan inshof maka dia akan mengetahui kedalaman ilmunya dalam bidang fiqih, bacalah <em>Silsilah Ash-shohihah</em>, <em>Ahkamul Janaiz</em>, <em>Sifat Sholat Nabi</em>, <em>Tamamul Minnah</em>, kaset ceramah dan soal jawabnya, dan..dan ..dan lain sebagainya!! Bagaimana beliau bukan seorang yang faqih, padahal dia telah <strong>berkhidmah pada sunnah nabawiyyah lebih dari lima puluh tahun lamannya</strong>!!.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Syaikh al-Albani sendiri pernah ditanya tentang omongan ini, beliau hanya menjawab: “Apakah engkau ingin aku berbicara tentang diriku?!” Terkadang beliau juga menjawab: “Jawaban omongan ini adalah apa yang engkau lihat, bukan apa yang engkau dengar”.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn10">[10]</a></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ya, jawaban tentang fiqih al-Albani adalah apa yang kita lihat dalam kitab-kitabnya, soal jawabnya, dialognya, dan kaset-kasetnya, bukan apa yang kita dengar dari sebagian kalangan bahwa al-Albani miskin dalam bidang fiqih!!</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Sungguh, tuduhan ini adalah suatu kedzaliman, bagaimana seorang yang sejak <strong>umur dua puluh tahun</strong> mondar-mandir maktabah Zhohiriyyah dan <strong>terus meneliti</strong> kitab-kitab dari berbagai bidang ilmu tanpa henti, setelah itu dikatakan bukan faqih?! Bertaqwalah kepada Alloh wahai pencela ulama!!</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Al-Albani tidak tahu fiqhul waqi’ (realita umat)</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong> </strong>Tuduhan ini juga banyak terlontar, seringkali kita membaca ucapan sebagian mereka: “Barangkali saja Syaikh al-Albani saat berfatwa tentang Palestina, sedang tidak membawa buku aqidah salaf!!”.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn11">[11]</a> Dan kata-kata sejenisnya yang bernada melecehkan!! Tuduhan ini bukan hanya Syaikh al-Albani saja yang kena getahnya, para ulama salaf lainnya juga demikian semisal <strong>Syaikh Ibnu Baz</strong>, <strong>Ibnu Utsaimin</strong> dan lain sebagainya<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn12">[12]</a>.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Fiqhul Waqi’</strong> dalam artian mengetahui realita yang terjadi pada umat dan makar-makar musuh terhadap Islam adalah suatu <strong>kewajiban penting</strong> yang harus ditunaikan oleh <strong>sekelompok tertentu</strong> dari para penuntut ilmu yang cerdas guna mengetahui hukum syar’I mengenainya, seperti halnya ilmu-ilmu lainnya, baik ilmu syar’I, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya dari ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi manusia guna menuju kejayaan Islam.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn13">[13]</a></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Namun, apa hukumnya fiqhul waqi?!</strong> Hukumnya adalah <strong>fardhu kifayah</strong>, bila ada suatu kelompok kaum muslimin telah menunaikannya maka gugur kewajiban tersebut dari lainnya<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn14">[14]</a>. Oleh karena itu, maka kewajiban bagi kelompok muslim yang menggeluti fiqhul waqi’ untuk bekerjasama bersama para ulama, mereka akan memaparkan permasalahan dengan gambaran yang jelas dan para ulama akan menjelaskan hukumnya berdasarkan al-Qur’an dan hadits, sebab kesempurnaan adalah suatu hal yang sangat jarang dijumpai pada diri seorang, artinya seorang yang <strong>menyibukkan dengan ilmu syar’I</strong> dan dalam waktu yang <strong>bersamaan</strong> dia juga <strong>menyibukkan dengan ilmu fiqhul waqi</strong>‘, ini <strong>jarang sekali terkumpul pada seseorang.</strong></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dengan demikian, maka tuduhan sebagian kalangan “Si fulan memang alim, tetapi dia tidak mengerti fiqhul waqi’”. Ini adalah suatu pembagian yang menyelisihi syari’at dan waqi’ (realita)<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn15">[15]</a>. Sebab ungkapan ini seakan-akan mewajibkan kepada para ulama untuk mengilmui juga ilmu sosial, ekonomi, politik, siasat perang, persenjataan dan sebagainya!! Hal ini sulit terbayangkan bisa terkumpul pada seseorang. Oleh karenanya, hendaknya kaum muslimin saling bantu-membantu antara satu dengan yang lainnya.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn16">[16]</a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong> berkata: “Banyak tuduhan kepada sebagian ahli ilmu bahwa mereka tidak mengerti waqi’ (realita) dan program-program kaum munafiq dan sekuler. Hal ini bukanlah suatu aib dan celaan. Dahulu saja, Nabi tidak mengetahui keadaan sebagian orang munafiq padahal beliau adalah tuan manusia dan mereka juga bersama Nabi di Madinah bertahun-tahun lamanya. Nah, kalau demikian apakah tidak boleh kalau ulama tidak mengetahui keadaan kaum munafiqin?!!”.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Namun harus kita ingat, kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap fiqhul waqi’, dengan menjadikannya sebagai metode bagi para dai dan pemuda dengan anggapan hal itu adalah jalan keselamatan, sungguh ini adalah kesalahan yang nyata<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn18">[18]</a>. Apakah kita ingin agar manusia sibuk dengan berita-berita koran, TV, radio, dan internet yang tidak bisa  keabsahannya tidaak otentik dan melupakan kajian al-Qur’an dan hadits yang sangat jelas keontetikannya?! Alangkah bagusnya ucapan seorang:</p>
<blockquote><p><strong>مُنَايَ مِنَ الدُّنْيَا عُلُوْمٌ أَبُثُّهَا </strong></p>
<p><strong> وَأَنْشُرُهَا فِيْ كُلِّ بَادٍ وَحَاضِرِ</strong></p>
<p><strong>دُعَاءٌ إِلَى الْقُرْآنِ وَ السُّنَنِ الَّتِيْ </strong></p>
<p><strong> تَنَاسَى رِجَالٌ ذِكْرَهَا فِي الْمَحَاضِرِ</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>وَقَدْ أَبْدَلُوْهَا بِالْجَرَائِدِ تَارَةْ </strong></p>
<p><strong> وَتِلْفَازُهُمْ رَأْسُ الشُّرُوْرِ وَالْمَنَاكِرِ</strong></p>
<p><strong>وَبِالرَّادِيُوْ فَلاَ تَنْسَ شَرَّهُ </strong></p>
<p><strong> فَكَمْ ضَاعَ الْوَقْتُ بِهَا مِنْ خَسَائِرِ</strong></p>
<p><em>Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu</em></p>
<p><em>Ke pelosok desa dan kota</em></p>
<p><em>Mengajak menusia kepada al-Qur’an dan Sunnah</em></p>
<p><em>Yang kini banyak dilalaikan manusia.</em><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn19">[19]</a><em> </em></p>
<p><em>Mereka menggantinya dengan koran</em></p>
<p><em>Dan Televisi mereka sumber kerusakan dan kemunkaran</em></p>
<p><em>Dan juga Radio, jangan kamu lupakan kejelekannya</em></p>
<p><em>Betapa banyak waktu hilang sia-sia karenanya.</em><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn20">[20]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, simaklah nasehat <strong>Syaikh al-Albani</strong> tatkala berkata:</p>
<blockquote><p>“Adapun menuding sebagian ulama atau penuntut ilmu bahwa mereka tidak mengerti waqi’ dan tuduhan-tuduhan memalukan lainnya, maka ini adalah kesalahan yang amat nyata, tidak boleh diteruskan, karena hal itu termasuk mengolok-ngolok yang dilarang oleh Nabi dalam banyak haditsnya bahkan diperintahkan untuk sebaliknya yaitu saling mencintai antar sesama”.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn21">[21]</a></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Simak juga nasehat <strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong> tatkala berkata:</p>
<blockquote><p>“Sewajibnya bagi setiap muslim untuk menjaga lidahnya dari ucapan-ucapan yang tidak pantas dan tidak berbicara kecuali di atas ilmu. Menuduh bahwa si fulan tidak mengetahui realita adalah membutuhkan ilmu, dan tidak boleh dikatakan kecuali oleh seorang yang memiliki ilmu. Adapun asal menuduh begitu saja tanpa ilmu maka hal ini merupakan kemungkaran yang besar”.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn22">[22]</a></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Al-Albani dan Fatwa Palesthina</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fatwa ini sangat bikin heboh. Perhatikan ucapan sebagian mereka: “Sebagian pakar menganggap fatwa al-Albani ini membuktikan bahwa logika yang dipakai al-Albani adalah <strong>logika Yahudi</strong>, bukan logika Islam, karena fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang yang berambisi menguasai Palesthina. Mereka menilai fatwa al-Albani ini <strong>menyalahi sunnah</strong>, dan sampai pada tingkatan <strong>pikun</strong>. Bahkan <strong>Dr. Ali al-Fuqayyir</strong>, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menilai bahwa <strong>fatwa ini keluar dari Syetan</strong>“.<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab masalah ini, maka kami akan menjelaskan duduk permasalahan fatwa Syaikh al-Albani tentang masalah Palesthina ini dalam beberapa point berikut<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn24">[24]</a>:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Hijrah dan jihad terus berlanjut hingga hari kiamat tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, yaitu Mekkah.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu untuk menampakkan hukum-hukum syar’I yang dibebankan Allah kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya sehingga menjadikannya murtad dari agama.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Inilah <strong>inti fatwa Syaikh al-Albani</strong> yang seringkali <strong>disembunyikan</strong>!!</li>
<li><strong>Imam Nawawi</strong> berkata dalam <em>Roudhatut Tholibin</em> 10/282:</li>
</ul>
<blockquote><p>“Apabila seorang muslim merasa lemah di Negara kafir, dia tidak mampu untuk menampakkan agama Allah, maka haram baginya untuk tinggal di tempat tersebut dan wajib baginya untuk hijrah ke negeri Islam…”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">5. Apabila seorang muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya untuk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut tanpa harus ke luar negerinya, karena hal itu lebih mudah baginya untuk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Hijrah sebagaimana disyari’atkan dari Negara ke Negara lainnya, demikian juga dari kota ke kota lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Point ini juga banyak dilalaikan</strong> oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran-koran bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palesthina untuk keluar darinya!!! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!!!</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">7. Tujuan hijrah adalah untuk mempersiapkan kekuatan untuk melawan musuh-musuh Islam dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Semua ini apabila <strong>ada kemampuan</strong>. Apabila seorang muslim tidak mendapati tanah untuk menjaga diri dan agamanya kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan-halangan yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaannya di tempatnya lebih aman untuk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali ke negeri kafir juga, atau keberadaannya untuk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat untuk umat atau untuk mendakwahi musuh dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya, semoga dia mendapatkan pahala hijrah.<strong> Imam Nawawi </strong>berkata dalam <em>Roudhah </em>10/282: “<strong>Apabila dia tidak mampu untuk hijrah, maka dia diberi udzur sampai dia mampu</strong>“.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Demikian juga dalam kasus Palesthina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan: “Apakah di Palesthina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaknya mereka hijrah ke sana dan tidak keluar dari Palesthina, karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan”.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Demikianlah perincian Syaikh al-Albani, lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palesthina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendeki, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan kezhaliman kalian!!.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">9. Hendaknya seorang muslim meyakini bahwa menjaga agama dan aqidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">10. Anggaplah Syaikh al-Albani keliru dalam fatwa ini, apakah kemudian harus dicaci maki dan divonis dengan sembrangan kata?!! Bukankah beliau telah berijtihad dengan ilmu, hujjah dan kaidah?!! Bukankah seorang ulama apabila berijtihad, dia dapat dua pahala dan satu pahala bila dia salah?! Lantas, seperti inikah balasan yang beliau terima?!!</p>
<p style="text-align:justify;">11. Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah Al Furqon, edisi 115, hlm. 19 bahwa Syaikh al-Albani telah bersiap-siap untuk melawan Yahudi, hampir saja beliau sampai ke Palesthina, tetapi ada larangan pemerintah untuk para mujahidin”.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh al-Albani sampai ke Palesthina pada tahun 1948 dan beliau sholat di masjidil Aqsho dan kembali sebagai pembimbing pasukan Saudi yang tersesat di jalan. Lihat kisah selengkapnya dalam bukunya berjudul <em>“Rihlatii Ila Nejed”.</em> (perjalananku ke Nejed).</p>
<p style="text-align:justify;">Kami kira, keterangan singkat di atas cukup untuk membungkat mulut-mulut durhaka dan tulisan-tulisan hina yang menuding dengan sembrangan kata<a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftn25">[25]</a>!! Wallahu A’lam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/biografi-ustadz-yusuf/"><strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/"><strong>www.abiubaidah.com</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Silsilah ash-Shohihah</em> (I/4 dan II/17) oleh al-Albani.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref2">[2]</a> <em>Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah</em> 1/29</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref3">[3]</a> HR. Al-Bukhori (no. 7) dan Muslim (no. 160).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref4">[4]</a> <em>Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi</em> Ibnu Abdil Barr 2/310</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref5">[5]</a> <em>Adz-Dzabbul Ahmad ‘an Musnad Imam Ahmad</em> hal. 32-33</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref6">[6]</a> Apakah setelah pujian ini, kita percaya kepada ucapan para penyusun buku <em>“Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…”</em> hlm. 241 bahwa Syaikh al-Utsaimin menilai al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali!! Hanya kepada Alloh kita mengadu dari kebutaan dan kejahilan!!!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>At-Ta’rif wa Tanbi’ah bi Ta’shilatil Imam al-Albani fi Masailil IMan war Radd ‘alal Murjiah </em>hlm. A43-144, <em>Ar-Raddul Burhani,</em> Ali Hasan al-Halabi hal. 72-74 dan <em>Al-Imam Al-Bani wa Mauqifuhu Minal Irja’,</em> Abdul Aziz ar-Rayyis hal. 40-43</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal</em> Ibnul Jauzi hal. 67)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref9">[9]</a> <em>Syaraf Ashabil Hadits</em> hal. 142</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref10">[10]</a> <em>Hayah al-Albani</em> 2/502</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref11">[11]</a> Sebagaimana dikatakan oleh penulis artikel “Mengapa Salafi Dimusuhi Umat” dalam Majalah Risalah Mujahidin edisi no. 1/Th. 1, Ramadhan 1427 H/September 2006 M, hlm. 2. Artikel ini telah dibantah oleh Ustadzunal Karim Aunur Rofiq bin Ghufron dalam Majalah al-Furqon edisi 5/Th. VI.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref12">[12]</a> Saya yakin bahwa para ulama yang dituding tidak mengerti waqi’ semisal Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, al-Albani dan sebagainya, justru mereka lebih mengerti tentang fiqhul waqi’ daripada para pelontar tuduhan yang <em>ngawur</em> itu!! Barangsiapa membaca siroh perjalanan hidup mereka, maka akan membenarkan ucapan saya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref13">[13]</a> Lihat <em>Sual wa Jawab Haula Fiqhil Waqi’,</em> al-Albani hlm. 34-35.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref14">[14]</a> Alangkah bagusnya ucapan Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkholi: “Apabila sebagian kelompok mengaku bahwa mereka mengetahui fiqhul waqi’, lantas mengapa mereka mencela kaum salafiyyin dan mensifati mereka tidak mengerti waqi?! Bukankah kewajiban salafiyyin telah gugur karena adanya sebagian kaum muslimin yang menunaikannya?! (<em>Ahlul Hadits Humut Thoifah al-Manshurah</em> hlm. 92).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref15">[15]</a> Pembagian ulama waqi’ dan ulama syari’at mengingatkan kita kepada pembagian kaum Sufi: Ulama syari’at dan ulama hakekat untuk memisahkan manusia dari para ulama robbaniyyun. Ini adalah salah satu dari sekian banyak dampak negatif dari salaf faham tentang fiqhul waqi. Lihat secara panjang lebar dalam buku <em>Fiqhul Waqi’ Baina Nadhoriyyah wa Tahtbiq</em> hlm. 44-60 karya Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref16">[16]</a> Idem hlm. 39-41</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref17">[17]</a> <em>Wujub Tho’athis Shulthon fi Tho’atir Rohman</em> -secara ringkas-, Muhammad al-’Uraini hlm. 44-45, dari <em>Madarikun Nadhor,</em> Abdul Malik Romadhoni hlm. 199-200</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref18">[18]</a> Idem. hlm. 48 dan 57.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref19">[19]</a> <em>Siyar A’lam Nubala</em> 18/206. Adz-Dzahabi berkomentar: “Syairnya Ibnu Hazm ini sangat indah sekali sebagaimana engkau lihat sendiri”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref20">[20]</a> <em>Mawarid azh-Zhom’an</em> 3/4, Syaikh Abdul Aziz as-Salman.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref21">[21]</a> <em>Sual wa Jawab Haula Fiqhil Waqi’,</em> al-Albani hlm. 59-60.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref22">[22]</a> <em>Majalah Robithah Alam Islami</em>, edisi 313, dinukil dari <em>Qowa’id fi Ta’amul Ma’a Ulama,</em> Abdur Rahman Mu’alla al-Luwaihiq hal. 108.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref23">[23]</a> <em>Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU..</em> hlm. 244.</p>
<p style="text-align:justify;">Faedah: Para penulis buku <em>“Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…”</em> dalam hujatan mereka terhadap al-Albani banyak berpedoman kepada buku <em>“Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama”</em> karya Ukasyah Abdul Mannan, padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim al-Hilali. (Lihat <em>Fatawa Ulama Akabir</em> Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan <em>Shofahat Baidho’ Min Hayati Imamil Al-Albani</em> Syaikh Abu Asma’ hlm. 88). Dengan demikian, jatuhlah nilai hujatan mereka terhadap al-Albani dari akarnya. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref24">[24]</a> Lihat <em>As-Salafiyyun wa Qodhiyyatu Falestina</em> hal. 14-37. Lihat pula <em>Silsilah Ahadits ash-Shohihah</em> no. 2857, <em>Madha Yanqimuna Minas Syaikh</em>, Muhammad Ibrahim Syaqroh hlm. 21-24, <em>al-Fashlul Mubin fi Masalatil Hijrah wa Mufaroqotil Musyirikin,</em> Husain al-Awaisyah, Majalah Al-Asholah edisi 7/Th. II, Rabiu Tsani 1414 H.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/#_ftnref25">[25]</a> Syaikh al-Albani mengatakan: “Sesungguhnya apa yang ditulis oleh saudara yang mulia Muhammad bin Ibrahim Syaqroh dalam risalah ini berupa fatwa dan ucapanku adalah kesimpulan apa yang saya yakini dalam masalah ini. Barangsiapa yang menukil dariku selain kesimpulan ini, maka dia telah keliru atau pengikut hawa nafsu”.</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : www.abiubaidah.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=456&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/10/syaikh-al-albani-ahli-hadits-yang-terdzalimi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Ayah Bertaubat dengan Sebab Anaknya yang Masih Berusia 7 Tahun</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/25/kisah-seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab-anaknya-yang-masih-berusia-7-tahun/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/25/kisah-seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab-anaknya-yang-masih-berusia-7-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 12:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.
Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=451&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.</p>
<p>Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.</p>
<p>Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:<span id="more-451"></span></p>
<p>“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.</p>
<p>Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”</p>
<p>Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.</p>
<p>Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.</p>
<p>Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.</p>
<p>Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.</p>
<p>Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.</p>
<p>Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):</p>
<p>”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)</p>
<p>Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.</p>
<p>Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”</p>
<p>Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.</p>
<p>Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”</p>
<p>Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”</p>
<p>Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.</p>
<p>Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.</p>
<p>Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),</p>
<p>”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)</p>
<p>Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.</p>
<p>Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”</p>
<p>Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”</p>
<p>Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.</p>
<p>Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.</p>
<p>Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.</p>
<p>Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”</p>
<p>Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”</p>
<p>Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.</p>
<p>Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”</p>
<p>( “Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia )</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=451&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/25/kisah-seorang-ayah-bertaubat-dengan-sebab-anaknya-yang-masih-berusia-7-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Paling Mengagumkan Dalam Sejarah</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/kisah-taubat-paling-mengagumkan-dalam-sejarah/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/kisah-taubat-paling-mengagumkan-dalam-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 07:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Zakiy Muhammad, dari Kitab Qishshah wa ‘Ibrah
Imam Muslim dalam Shahihnya (9/69), dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. Pada suatu hari Rasul duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.
Majelis tersebut dipenuhi oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=447&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Oleh: Zakiy Muhammad, dari Kitab Qishshah wa ‘Ibrah</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Muslim dalam Shahihnya (9/69), dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. Pada suatu hari Rasul duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi. Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, dia berjalan dengan penuh gentar dan takut, dia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, dia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menghadap untuk mencari kematian. Kematian lebih ringan, jika disertai oleh pengampunan dan penghapusan dosa. Menjadi ringan jika setelah kematian tersebut terdapat keridhaan dan penerimaan dari sisi Allah Ta’ala.<span id="more-447"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hingga dia sampai kepada beliau Shalallahu ‘, kemudian dia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa dia telah berzina!!<br />
Dia berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang diperbuat oleh Rasulullah Shalallhu ‘alaihi wa sallam?! Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut? Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. Maka Nabi r bersabda kepadanya: &#8220;Pergilah, hingga engkau melahirkannya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!&#8221;<br />
Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat, rahmat kepada burung, dan menyayangi hewan.<br />
Sebagian ahli ilmu berkata: &#8220;Bahkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan rahmat hingga kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman tentang beliau: &#8220;Dan tidakklah aku utus kamu Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.&#8221; Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya? Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung.<br />
Tahunpun bergulir berganti tahun. Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka dia adalah temanku di sorga seperti ini…&#8221; Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam (dilempari dengan batu hingga mati).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka manusiapun berkumpul, dan merajamnya. Muncratlah darah dari kepala wanita tersebut mengenai Khalid bin Walid, maka diapun mencacinya pada jarak pendengaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda kepadanya: &#8220;Tenang wahai Khalid, demi Allah, dia telah bertaubat dengan pertaubatan yang seandainya penarik pajak (pungli) bertaubat dengannya pastilah akan diterima darinya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar Radhiyallahu ‘anhu: &#8220;Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.&#8221; Maka beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah Ta’ala?&#8221; (HR. Ahmad (40/399))</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah. Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah berdiri pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah. Ya, ini taubat nashuha wahai hamba-hamba Allah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=447&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/kisah-taubat-paling-mengagumkan-dalam-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DI Balik Musibah Gempa Bumi</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/di-balik-musibah-gempa-bumi/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/di-balik-musibah-gempa-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 07:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:
[Gempa Bumi, Di Antara Tanda Kekuasaan Allah][1]
Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=444&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Gempa Bumi, Di Antara Tanda Kekuasaan Allah][1]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Dia pun menetapkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Dengan tanda-tanda tersebut, Allah mengingatkan kewajiban hamba-hamba-Nya, yang menjadi hak Allah ‘azza wa Jalla. Hal ini untuk mengingatkan para hamba dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1453"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.”</em> (Qs. Al-Israa: 59)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.”</em> (Qs. Fushilat: 53)</p>
<p style="text-align:justify;">Allag Ta’ala pun berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain.”</em> (Qs. Al-An’am: 65)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari meriwayatkan di dalam kitab shahihnya, dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tatkala turun firman Allah Ta’ala dalam surat Al An’am [قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ], beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: <em>“Aku berlindung dengan wajah-Mu.”</em> Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melanjutkan (membaca) [أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ], beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdo’a lagi, <em>“Aku berlindung dengan wajah-Mu.”</em> [2]</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al Ash-bahani, dari Mujahid tentang tafsir surat Al An’am ayat 65 [قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ], beliau mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah halilintar, hujan batu dan angin topan.  Sedangkan firman Allah [أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ], yang dimaksudkan adalah gempa dan tanah longsor.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di berbagai tempat termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah guna menakut-nakuti para hamba-Nya.<span id="more-444"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Musibah Datang Dikarenakan Kesyirikan dan Maksiat yang Diperbuat]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Perlu diketahui), semua musibah yang terjadi di alam ini, berupa gempa dan musibah lainnya yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, itu semua disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat yang diperbuat. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”</em> (Qs. Asy-Syuura: 30)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.”</em> (Qs. An-Nisaa: 79)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala menceritakan tentang umat-umat terdahulu,</p>
<p style="text-align:justify;">فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”</em> (Qs. Al-Ankabut: 40)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Kembali pada Allah Sebab Terlepas dari Musibah]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, wajib bagi setiap kaum muslimin yang telah dibebani syari’at dan kaum muslimin lainnya, agar bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, konsisten di atas agama, serta menjauhi larangan Allah yaitu kesyirikan dan maksiat. Sehingga dengan demikian, mereka akan selamat dari seluruh bahaya di dunia maupun di akhirat. Allah pun akan menghindarkan dari mereka berbagai adzab, dan menganugrahkan kepada mereka berbagai kebaikan. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> (Qs. Al-A’raaf: 96)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala pun mengatakan tentang Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani),</p>
<p style="text-align:justify;">وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.”</em> (Qs. Al-Maidah: 66)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ, أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ, أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”</em> (Qs. Al-A’raaf: 97-99)</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="nasehat syaikh ibnu baz" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/nasehat-ulama-di-balik-musibah-gempa-bumi.html"><strong>[Perkataan Para Salaf Ketika Terjadi Gempa]</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">Al ‘Allaamah Ibnul Qayyim –<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan izin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Akhirnya, muncullah rasa takut yang mencekam pada hamba-hamba Allah. Ini semua sebagai peringatan agar mereka bersegera bertaubat, berhenti dari berbuat maksiat, tunduk kepada Allah dan menyesal atas dosa-dosa yang selama ini diperbuat. Sebagian salaf  mengatakan ketika terjadi goncangan yang dahsyat, “Sesungguhnya Allah mencela kalian.” ‘Umar bin Khatthab -<em>radhiyallahu ‘anhu</em>-, pasca gemba di Madinah langsung menyampaikan khutbah dan wejangan. ‘Umar -<em>radhiyallahu ‘anhu</em>- mengatakan, “Jika terjadi gempa lagi, janganlah kalian tinggal di kota ini.” Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim -<em>rahimahullah</em>-. Para salaf memiliki perkataan yang banyak mengenai kejadian semacam ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Bersegera Bertaubat dan Memohon Ampun pada Allah]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saat terjadi gempa atau bencana lain seperti gerhana, angin ribut dan banjir, hendaklah setiap orang bersegera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, merendahkan diri kepada-Nya dan memohon keselamatan dari-Nya, memperbanyak dzikir dan istighfar (memohon ampunan pada Allah). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika terjadi gerhana bersabda, <em>“Jika kalian melihat gerhana, maka bersegeralah berdzikir kepada Allah, memperbanyak do’a dan bacaan istighfar.”</em>[3]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Dianjurkan Memperbanyak Sedekah dan Menolong Fakir Miskin]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula ketika terjadi musibah semacam itu, dianjurkan untuk menyayangi fakir miskin dan memberi sedekah kepada mereka. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">ارْحَمُوا تُرْحَمُوا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sayangilah (saudara kalian), maka kalian akan disayangi.”</em>[4]</p>
<p style="text-align:justify;">Juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di muka bumi, kalian pasti akan disayangi oleh Allah yang berada di atas langit.”</em>[5]</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang.”</em>[6]</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul Aziz –<em>rahimahullah</em>- bahwasanya saat terjadi gempa, beliau menulis surat kepada pemerintahan daerah bawahannya agar memperbanyak shadaqah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Yang Mesti Diperintahkan Pemimpin Kaum Muslimin kepada Rakyatnya]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara sebab terselamatkan dari berbagai kejelekan adalah hendakanya pemimpin kaum muslimin bersegera memerintahkan pada rakyat bawahannya agar berpegang teguh pada kebenaran, kembali berhukum dengan syari’at Allah, juga hendaklah mereka menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana.”</em> (Qs. At-Taubah: 71)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ, الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar ; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”</em> (Qs. Al-Hajj : 40-41)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”</em> (Qs. Ath-Thalaaq: 2-3)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat-ayat semacam ini amatlah banyak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Anjuran untuk Menolong Kaum Muslimin yang Tertimpa Musibah]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah akan selalu menolongnya.”</em>[7]</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”</em>[8] Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits yang mendorong untuk menolong sesama amatlah banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Musimin, memberikan pemahaman agama, menganugrahkan keistiqomahan dalam agama, dan segera bertaubat kepada Allah dari setiap dosa. Semoga Allah memperbaiki kondisi para penguasa kaum Muslimin. Semoga Allah menolong dalam memperjuangkan kebenaran dan menghinakan kebathilan melalui para penguasa tersebut. Semoga Allah membimbing para penguasa tadi untuk menerapkan syari’at Allah bagi para hamba-Nya. Semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari berbagai cobaan dan jebakan setan. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari pembalasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mufti ‘Aam Kerajaan Saudi Arabia<br />
Ketua Hai-ah Kibaril ‘Ulama’, Penelitian Ilmiah dan Fatwa<br />
‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz[9]</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: <em>Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em>, 9/148-152, <em>Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah Li Samahah As Syaikh Ibnu Baz</em>, Mawqi’ Al Ifta’ (http://alifta.net)</p>
<p style="text-align:justify;">Panggang, 14 Syawwal 1430 H</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a title="nasehat syaikh ibnu baz" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/nasehat-ulama-di-balik-musibah-gempa-bumi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Footnote:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1] Yang mengalami tanda kurung semacam ini “[…]” di awal paragraf adalah tambahan judul dari penerjemah untuk memudahkan pembaca dalam memahami tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">[2] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam <em>Tafsir Al Qur’an</em> no. 4262 dan At Tirmidzi dalam Tafsir Al Qur’an no. 2991</p>
<p style="text-align:justify;">[3] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam <em>Al Jumu’ah</em> no. 999 dan Muslim dalam Al Kusuf no. 1518</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya no. 6255.</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam <em>Al Birr wash Shilah</em> no. 1847.</p>
<p style="text-align:justify;">[6] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam <em>Adabul Mufrod</em> no. 5538 dan At Tirmidzi dalam <em>Al Birr wash Shilah</em> no. 1834.</p>
<p style="text-align:justify;">[7] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam <em>Al Mazholim</em> dan <em>Al Ghodhob</em> no. 2262 dan Muslim no. 4677 dengan lafazh yang disepakati oleh keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">[8] Diriwayatkan oleh Muslim dalam <em>Adz Dzikr</em>, <em>Ad Du’aa</em> dan <em>At Taubah</em> no. 4867 dan At Tirmidzi dalam <em>Al Birr wash Shilah</em> no. 1853.</p>
<p style="text-align:justify;">[9] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz lahir pada tahun 1330 H di kota Riyadh. Dulunya beliau memiliki penglihatan. Kemudian beliau tertimpa penyakit pada matanya pada tahun 1346 H dan akhirnya lemahlah penglihatannya. Pada tahun 1350 H, beliau buta total. Beliau telah menghafalkan Al Qur’an sebelum baligh. Beliau sangat perhatian dengan hadits dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu tersebut. Beliau pernah menjabat sebagai Mufti ‘Aam Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa di Saudi Arabia). Beliau meninggal dunia pada hari Kamis, 27/1/1420 H pada umur 89 tahun. (Sumber: http://alifta.net/Fatawa/MoftyDetails.aspx?ID=2)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=444&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/10/16/di-balik-musibah-gempa-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/28/keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/28/keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 08:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[yub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”[1]
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=441&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">yub al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.”</em>[1]</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2].</p>
<p style="text-align:justify;">Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:<span id="more-441"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pahala perbuatan baik akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali, karena puasa Ramadhan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi tiga puluh enam hari, pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali menjadi tiga ratus enam puluh hari, yaitu sama dengan satu tahun penuh (tahun Hijriyah)[3].</p>
<p style="text-align:justify;">Keutamaan ini adalah bagi orang yang telah menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan telah mengqadha/membayar (utang puasa <a title="puasa syawal" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal.html">Ramadhan</a>) jika ada, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di atas: “<em>Barangsiapa yang (telah) berpuasa (di bulan) Ramadhan…”</em>, maka bagi yang mempunyai utang puasa Ramadhan diharuskan menunaikan/membayar utang puasanya dulu, kemudian baru berpuasa Syawwal[4].</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, barangsiapa yang berpuasa Syawwal sebelum membayar utang puasa Ramadhan, maka puasanya sah, tinggal kewajibannya membayar utang puasa Ramadhan[5].</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih utama jika puasa enam hari ini dilakukan berturut-turut, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, meskipun dibolehkan tidak berturut-turut.[6]</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda[7].</p>
<p style="text-align:justify;">Melakukan puasa Syawwal menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa dan bahwa ibadah ini tidak memberatkan dan membosankan, dan ini merupakan pertanda kesempurnaan imannya[8].</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih[9].</p>
<p style="text-align:justify;">Tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya[10].</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br />
Artikel <a title="puasa syawal" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal.html">www.muslim.or.id</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Footnote:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1] HSR Muslim (no. 1164).</p>
<p style="text-align:justify;">[2] Lihat kitab <em>Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab</em> (hal. 157).</p>
<p style="text-align:justify;">[3] Lihat kitab <em>Bahjatun Naazhirin</em> (2/385).</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Pendapat ini dikuatkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam <em>asy Syarhul Mumti’</em> (3/100), juga syaikh Sulaiman ar-Ruhaili dan para ulama lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Lihat keterangan syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitab “Ahaadiitsush shiyaam” (hal. 159).</p>
<p style="text-align:justify;">[6] Lihat kitab <em>asy Syarhul Mumti’</em> (3/100) dan <em>Ahaadiitsush Shiyaam</em> (hal. 158).</p>
<p style="text-align:justify;">[7] Lihat kitab <em>Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab</em> (hal. 158).</p>
<p style="text-align:justify;">[8] Ibid (hal. 157).</p>
<p style="text-align:justify;">[9] Ibid (hal. 158).</p>
<p style="text-align:justify;">[10] Ibid (hal. 157).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=441&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/28/keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOWNLOAD Rekaman Dauroh Ramadhan 1430 H Kota Medan Bersama Ustadz Firanda, Lc</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/08/download-rekaman-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan-bersama-ustadz-firanda-lc/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/08/download-rekaman-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan-bersama-ustadz-firanda-lc/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 15:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah rekaman Dauroh Ramadhan 1430 H Kota Medan yang di adakan pada Tanggal 5-6 September 2009 yang lalu yang di sampaikan oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda bin Abidin As Soronji, Lc yang di laksanakan di Masjid Al Mukhlisin Johor, silakan download :
Hari Sabtu, 5 September 2009


Nasehat Bagi Si Kaya dan Si Miskin -materi-
Nasehat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=437&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:justify;">Ini adalah rekaman Dauroh Ramadhan 1430 H Kota Medan yang di adakan pada Tanggal 5-6 September 2009 yang lalu yang di sampaikan oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda bin Abidin As Soronji, Lc yang di laksanakan di Masjid Al Mukhlisin Johor, silakan download :</p>
<p>Hari Sabtu, 5 September 2009<br />
<a href="http://www.4shared.com/file/130802877/d47dab8a/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Nasehat_Si_Kaya_dan_Si_Miskin_-materi-.html"><br />
</a></div>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/130802877/d47dab8a/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Nasehat_Si_Kaya_dan_Si_Miskin_-materi-.html">Nasehat Bagi Si Kaya dan Si Miskin -materi-</a><br />
<a href="http://www.4shared.com/file/131066079/77d03c1b/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Nasehat_Si_Kaya_dan_Si_Miskin_-tanya_jawab-.html">Nasehat Bagi Si Kaya dan Si Miskin -tanya jawab-</a></p>
<p>Hari Minggu, 6 September 2009</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/131067151/f243dbf9/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Hikmah_Dalam_Berdakwah_-materi-.html">Hikmah Dalam Berdakwah -materi-</a><br />
<a href="http://www.4shared.com/file/131074366/6b5b4fa9/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Hikmah_Dalam_Berdakwah_-tanya_jawab-.html">Hikmah Dalam Berdakwah -tanya jawab-</a></p>
<p><a href="http://www.4shared.com/file/131074966/66ccca7f/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Faedah_Keikhlasan_-materi-.html">Faedah Keikhlasan -materi-</a><br />
<a href="http://www.4shared.com/file/131076027/d07fcce9/Dauroh_Ramadhan_1430_H_bersama_Ust_Firanda_Faedah_Keikhlasan_-tanya_jawab-.html">Faedah Keikhlasan -tanya jawab-</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=437&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/08/download-rekaman-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan-bersama-ustadz-firanda-lc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadirilah&#8230;!!! DAUROH RAMADHAN 1430 H KOTA MEDAN&#8230;.!!!!</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/04/hadirilah-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/04/hadirilah-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 08:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&#8230;.
Ikhwani Fiddin&#8230;.
Hadirilah bersamai-ramai DAUROH RAMADHAN 1430 H Kota Medan yang insya Allah akan dilaksanakan pada :
Hari : Sabtu dan Minggu 
Tanggal : 5 September &#8211; 6 September 2009
Tempat : Masjid Al Mukhlisin 
Alamat : Jln. Karya Jaya Gang. Eka Wali Pribadi Gedung Johor Medan
Pemateri : Ustadz Abu Abdil Muhsin FIRANDA bin Abidin As [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=433&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Assalaamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&#8230;.</strong></p>
<p><strong>Ikhwani Fiddin&#8230;.</strong></p>
<p><strong>Hadirilah bersamai-ramai DAUROH RAMADHAN 1430 H Kota Medan yang insya Allah akan dilaksanakan pada :</strong></p>
<p><strong>Hari : Sabtu dan Minggu </strong></p>
<p><strong>Tanggal : 5 September &#8211; 6 September 2009</strong></p>
<p><strong>Tempat : Masjid Al Mukhlisin </strong></p>
<p><strong>Alamat : Jln. Karya Jaya Gang. Eka Wali Pribadi Gedung Johor Medan</strong></p>
<p><strong>Pemateri : Ustadz Abu Abdil Muhsin FIRANDA bin Abidin As Soronji, Lc</strong></p>
<p><strong></p>
<p></strong></p>
<p><strong>Materi : </strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabtu, 5 September 2009 </strong></p>
<p><strong>Pukul 09.00-12.00 wib &#8220;FIQIH RAMADHAN&#8221;</strong></p>
<p><strong>Pukul 20.30-22.00 wib &#8220;SEPATAH KATA NASEHAT&#8230;&#8221;</strong></p>
<p><strong></p>
<p></strong></p>
<p><strong>Minggu, 6 September 2009</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Pukul 09.00-12.00 wib &#8220;HIKMAH DALAM BERDAKWAH&#8221;</strong></p>
<p><strong>Pukul 16.00-18.00 wib &#8220;NASEHAT BAGI SI KAYA DAN SI MISKIN&#8221;</strong></p>
<p>Penyelenggara : Yayasan Minhajus Sunnah Medan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&blog=2203468&post=433&subd=abualbinjy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/09/04/hadirilah-dauroh-ramadhan-1430-h-kota-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>