<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Muliakan Diri Dengan Sunnah</title>
	<atom:link href="http://abualbinjy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abualbinjy.wordpress.com</link>
	<description>Menghiasi Kehidupan Diatas Manhaj Ahlusunnah Wal Jama'ah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Oct 2011 01:08:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abualbinjy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Muliakan Diri Dengan Sunnah</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abualbinjy.wordpress.com/osd.xml" title="Muliakan Diri Dengan Sunnah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abualbinjy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sudah Lama “Ngaji” Kok Kasar ?</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/10/31/sudah-lama-%e2%80%9cngaji%e2%80%9d-kok-kasar/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/10/31/sudah-lama-%e2%80%9cngaji%e2%80%9d-kok-kasar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:08:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaqnya baik walaupun sedikit ‘ilmunya”. [SMS seorang ikhwan] “Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ‘ilmunya masya Alloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat] “Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=604&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“<em>Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaqnya baik walaupun sedikit ‘ilmunya</em>”. <strong>[SMS seorang ikhwan]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ‘ilmunya masya Alloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia</em>”. <strong>[Pengakuan seorang akhwat]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaqnya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat</em>”. <strong>[Pengakuan seorang ikhwan]<span id="more-604"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”1 . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaqnya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ‘ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ‘ilmunya terutama akhlaqnya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang ber’ilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Akhlaq adalah Salah Satu Tolak Ukur Iman dan Tauhid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ‘ilmu agama, karena akhlaq adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ‘ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah <em>rodhiyalloohu ‘anha</em> mengambarkan langsung akhlaq Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah <em>rodhiyalloohu ‘anha</em> berkata,</p>
<blockquote><p> كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ</p>
<p>“<em>Akhlaq beliau adalah al-Quran</em>” <strong>[H.R. Muslim (no. 746), Abu Dawud (no. 1342) dan Ahmad (6/54)]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang berkata demikian adalah A’isyah <em>rodhiyalloohu ‘anha</em>, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer akhlaq seseorang adalah bagaimana akhlaqnya dengan istri dan keluarganya. Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<blockquote><p>خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي</p>
<p>“<em>Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku</em>.” <strong>[H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini <em>hasan gharib shohih</em>. Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut shohih]</strong>.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Akhlaq dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaqnya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlaq jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlaq jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tolak ukur yang lain adalah taqwa sehingga Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> menggabungkannya dengan</p>
<p style="text-align:justify;">akhlaq, beliau bersabda,</p>
<blockquote><p>اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ</p>
<p>“<em>Bertaqwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaqlah dengan manusia dengan akhlaq yang baik</em>.” <strong>[H.R. Tirmidzi (no. 1987) dan Ahmad (5/153). Abu ‘Isa at Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’diy <em>rohimahulloohu</em> menjelaskan hadist ini,</p>
<blockquote><p>“<em>Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, merealisasikan ketaqwaannya dan berakhlaq kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlaq yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya.</em>” <strong>[<em>Bahjatu Qulubil Abror</em> hal. 62, cetakan pertama, <em>Darul Kutubil ‘ilmiyah</em>]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula sabda beliau <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em>,</p>
<blockquote><p>أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ</p>
<p>”<em>Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah taqwa kepada Alloh dan akhlaq yang mulia</em>” <strong>[H.R. at-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani]</strong></p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tingginya ‘ilmu Bukan Tolak Ukur Iman dan Tauhid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena ‘ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ‘ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<blockquote><p> جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“<em>Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan</em>.” <strong>[Q.S. al-Waqi’ah: 24]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> tidak berfirman,</p>
<blockquote><p>جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ</p>
<p>“<em>Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui</em>.”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan cukuplah peringatan langsung dalam al-Qur’an bagi mereka yang ber’ilmu tanpa mengamalkan,</p>
<blockquote><p> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ</p>
<p>”<em>Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Alloh bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.</em>” <strong>[Q.S. ash-Shaff : 3]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan bisa jadi ‘ilmunya tinggi karena dikaruniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ‘ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>‘Ilmu Agama Hanya Sebagai Wawasan ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ‘ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ‘ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui ke’ilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ‘ilmu agar menambah akhlaq dan amal kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim <em>rohimahulloohu</em> mengatakan,</p>
<blockquote><p>“<em>Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ‘ilmunya maka semakin bertambah juga </em><em>tawadhu’</em><em> dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.</em>” <strong>[<em>al-Fawa’id</em> hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sibuk Belajar ‘Ilmu Fiqh dan Ushul, Melupakan ‘Ilmu Akhlaq dan Pensucian Jiwa </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ‘ilmu <em>fiqh</em>, <em>ushul tafsir</em>, <em>ushul fiqh</em>, ‘ilmu <em>mustholah hadist</em> dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ‘ilmu akhlaq dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlaq kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> diutus adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<blockquote><p>“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”</p>
<p>“<em>Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.</em>” <strong>[H.R. Al-Hakim dan dinilai shohih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani]</strong>.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Akhlaq yang Mulia Juga Termasuk dalam Masalah ‘Aqidah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlaq mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rohimahulloohu</em> memasukkan penerapan akhlaq yang mulia dalam permasalahan ‘aqidah. Beliau berkata,</p>
<blockquote><p>“<em>Dan mereka (<em>al-firqoh an-najiyah ahlus sunnah wal jama’ah</em>) menyeru kepada (penerapan) akhlaq yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em></em>, ‘<em>Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka</em>’<em>. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat dzolim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (<em>Ahlus sunnah wal jama’ah</em>) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlaq yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk</em>”. <strong>[Lihat <em>Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah</em>]</strong></p>
<p>&nbsp;</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagi yang Sudah “Ngaji” Syaitan Lebih Mengincar Akhlaq Bukan ‘Aqidah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya <em>insya Alloh</em> sudah mempelajari ‘ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan menggoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak akhlaqnya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlaq jelak lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:</p>
<blockquote><p>قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ</p>
<p>“<em>Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.</em>” <strong>[Q.S. al-A’raf: 16-17]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita Butuh Teladan Akhlaq dan Taqwa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di saat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ‘ilmu tetapi kita lebih butuh teladan akhlaq dan taqwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlaq dan taqwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ‘ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlaq dan adab orang tersebut baru kita mengambil ‘ilmunya. Ibu Imam Malik <em>rohimahulloohu</em>, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik <em>rohimahulloohu</em> mengisahkan:</p>
<blockquote><p>“<em>Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ‘ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku </em><em>mismarah</em><em> (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ‘ilmunya!’.</em> [<em><strong>Waratsatul Anbiya</strong></em><strong>’, dikutip dari majalah asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, hal. 76 s.d. 78]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian pada komentar ketiga,</p>
<blockquote><p>“<em>Baru melihatnya saja, ana langsung teringat akhirat</em>”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qoyyim <em>rohimahulloohu</em> berkata,</p>
<blockquote><p>“<em>Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.</em>” <strong>[<em>al Waabilush Shayyib</em> hal. 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sudah Lama “Ngaji” Tetapi Kok Susah Sekali Memperbaiki Akhlaq ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memang memperbaiki akhlaq adalah hal yang tidak mudah dan butuh “<em>mujahadah</em>” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlaq.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata &#8216;Abdulloh bin Mubarok <em>rohimahulloohu</em> :</p>
<blockquote><p>طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم</p>
<p>“<em>Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ‘ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ‘ilmu</em>”. <strong>[<em>Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro</em> I/446, cet. pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan kita tetap terus menuntut ‘ilmu untuk memperbaiki akhlaq kita karena ‘ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al Ghazali <em>rohimahulloohu</em> berkata,</p>
<blockquote><p>“<em>Kami dahulu menuntut ‘ilmu bukan karena Alloh ta’ala , akan tetapi ‘ilmu enggan kecuali hanya karena Alloh ta’ala.</em>” <strong>[<em>Thabaqat Asy Syafi’iyah</em>, dinukil dari tulisan Ust. Kholid Syamhudi, Lc, majalah as Sunnah]</strong>.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jadi hanya ada kemungkinan ‘ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ‘ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ‘ilmu agama maka insya Alloh ‘ilmu tersebut akan memperbaiki akhlaq kita dan pribadi kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mari Kita Perbaiki Akhlaq untuk Dakwah</strong></p>
<blockquote><p>“<em>orang salafi itu ‘ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri</em>” <strong>[pengakuan seseorang kepada penyusun]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena akhlaq buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<blockquote><p>يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا</p>
<p>“<em>Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari</em>” <strong>[H.R. Bukhori, <em>Kitabul ‘Ilmi</em> (no.69)]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena akhlaq yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahdzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlaq pendakwahnya yang mulia.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan Lupa Berdoa Agar Akhlaq Kita Menjadi Baik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Ali bin Abi Thalib <em>rodhiyalloohu ‘anhu</em> bahwa Rosululloh <em>shallalloohu ‘alaihi wasallam</em> dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :</p>
<blockquote><p>,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ</p>
<p>وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ</p>
<p>“<em>Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlaq yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlaq yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.</em>” <strong>[H.R. Muslim (771), Abu Dawud (760), Tirmidzi (3419)]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan doa dijauhkan dari akhlaq yang buruk,</p>
<blockquote><p>اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ</p>
<p>“<em>Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar</em>” <strong>[H.R. Tirmidzi (no. 3591), dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Dzolalul Jannah</em>: 13]</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid</p>
<p style="text-align:justify;">27 Ramadhan 1432 H Bertepatan 27 Agustus 2011</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Semoga Alloh meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlaq kami</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyusun : Raehanul Bahraen</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Artikel www.muslim.or.id</p>
<p style="text-align:justify;">[1] ngaji : istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus shalih, istilah ini juga identik dengan penuntut ‘ilmu agama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=604&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/10/31/sudah-lama-%e2%80%9cngaji%e2%80%9d-kok-kasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Subuhmu tak Telat Lagi</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/09/22/agar-subuhmu-tak-telat-lagi/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/09/22/agar-subuhmu-tak-telat-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 02:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang sulit sekali untuk bangun shalat subuh tepat waktu. Karena itu luput darinya berbagai keutaman sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ “Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin, maka dia akan masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu) Shalat di dua waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=600&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em></em>Sebagian orang sulit sekali untuk bangun shalat subuh tepat waktu. Karena itu luput darinya berbagai keutaman sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin, maka dia akan masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat di dua waktu yang dingin maksudnya adalah shalat ashar dan shalat subuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah juga bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ اللهِ ، فَانْظُرْ يَا ابْنَ آدَمَ ، لاَ يَطْلُبَنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيءٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang shalat subuh, maka dia berada dalam perlindungan Allah. Maka lihatlah wahai anak Adam, sungguh Allah tidak minta sesuatu apapun darimu untuk mendapatkan perlindungannya.” (HR. Muslim dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu)<span id="more-600"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga luput darinya keutamaan shalat sunnah Fajar sebagaimana dalam hadits:</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أشَدَّ تَعَاهُدَاً مِنهُ عَلَى رَكْعَتَي الفَجْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Tiada ibadah nafilah yang lebih dijaga oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada dua rakaat shalat fajar.” (Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini ada beberapa <strong>tips agar Anda bisa bangun subuh tepat waktu</strong>. Tidak banyak. Anda hanya perlu mengingat dan mempraktekkan empat perkara berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Memiliki ‘Azzam (Keinginan yang Kuat) untuk Bangun Tepat Waktu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau perkara pertama ini tidak ada pada diri Anda, maka lupakanlah langkah-langkah di bawah karena mungkin tidak akan bermanfaat. Pada diri Anda harus ada keinginan yang kuat untuk bisa bangun tepat waktu. Tentu keinginan yang kuat ini harus disertai dengan doa, meminta kemudahan dan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
2. Tidur lebih awal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara sebab bangun terlambat adalah kurangnya waktu tidur, mungkin disebabkan oleh banyak bergadang malam atau sebab-sebab lainnya. Untuk yang satu ini, Anda harus disiplin mengatur waktu tidur Anda dengan tidur lebih awal.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam hadits dari sahabat Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu,</p>
<p style="text-align:justify;">أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – كان يكرهُ النَّومَ قَبْلَ العِشَاءِ والحَديثَ بَعْدَهَا</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum ‘isya dan bercakap-cakap setelahnya. (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Barzah)</p>
<p style="text-align:justify;">Bercakap-cakap setelah shalat isya makruh kecuali apabila ada keperluan seperti, mudzakarah ‘ilm (mengulang pelajaran), memuliakan tamu, atau membantu orang yang membutuhkan, maka ini bukanlah perkara yang dimakruhkan, bahkan ini disunnahkan. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
3. Mengawali tidur dengan adab-adab Islami</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Awalilah tidur Anda dengan adab-adab tidur yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya,</p>
<p style="text-align:justify;">إِذَا أتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأ وُضُوءكَ لِلْصَّلاَةِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Jika engkau mendatangi pembaringanmu maka hendaknya engkau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berbaring pada malam hari, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan meniupnya (dengan sedikit ludah), lalu membaca surat Qul Huwallahu Ahad, Qul A’udzubirabbil falaq, dan Qul A’udzubirabbinnas. Kemudian dengan kedua belah telapak tangannya, beliau mengusap seluruh anggota badan yang terjangkau, dimulai dari kepala, wajah, lalu bagian depan tubuh beliau. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga apabila ingin tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi beliau lalu membaca,</p>
<p style="text-align:justify;">اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أمُوتُ وَأحْيَا</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup.” (HR. Al Bukhari dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Meminta Bantuan Anggota Keluarga, Teman Sekamar, atau Menggunakan Bantuan Alat<br />
</strong><br />
Dahulu Rasulullah juga membangunkan anggota keluarga beliau, sebagaimana di dalam hadits:</p>
<p style="text-align:justify;">أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلِّي صَلاَتَهُ باللَّيْلِ ، وَهِيَ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَإذَا بَقِيَ الوِتْرُ ، أيْقَظَهَا فَأوْتَرتْ</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sedangkan ‘Aisyah tidur dalam keadaan melintang di atas tempat tidurnya. Bila beliau hendak shalat witir beliau pun membangunkan ‘Aisyah dan ‘Aisyah pun mengerjakan witir.” (HR Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam riwayat yang lain beliau berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">قُومِي فَأوتِري يَا عائِشَةُ</p>
<p style="text-align:justify;">“Bangun dan shalah witirlah, wahai ‘Aisyah.” (HR Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)</p>
<p style="text-align:justify;">أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً, فَقَالَ: أَلاَ تُصَلِّيَانِ؟</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatanginya dan Fathimah putri Nabi, seraya berkata: “Tidakkah kalian berdua bangun untuk mengerjakan shalat?” (HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau Anda jauh dari keluarga, Anda bisa menggunakan alat-alat untuk membantu Anda bangun tepat waktu seperti jam weker atau alarm HP.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian sedikit tips agar kita bangun pagi dan shalat subuh tepat waktu. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, serta pengikutnya hingga akhir zaman.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Referensi:<br />
</strong>- Riyadhus Shalihin, Al Imam An Nawawi rahimahullah, tahqiq DR. Mahir Yasin Fahl</p>
<p style="text-align:justify;">- Hisnul Muslim, Said bin Ali Al Qahthani<br />
<em><br />
(Ditulis di Darul Hadits Syihir, Hadramaut pada hari Jum’at, 8 Rajab 1432 H bertepatan dengan 10 Juni 2010)</em></p>
<p style="text-align:justify;">sumber : http://wirabachrun.wordpress.com/2011/06/10/tips-bangun-tepat-waktu/#more-1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/600/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=600&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/09/22/agar-subuhmu-tak-telat-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Buat Puasa Kita Sia-sia</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/07/29/jangan-buat-puasa-kita-sia-sia/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/07/29/jangan-buat-puasa-kita-sia-sia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 12:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=597&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang jujur lagi membawa berita yang benar,</p>
<p style="text-align:justify;">رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga</em>.” (HR. Ath Thobroniy dalam <em>Al Kabir</em> dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih At Targib wa At Tarhib</em> no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih ligoirihi</em> -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia -semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.<span id="more-597"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Jauhilah Perkataan Dusta (<em>az zuur</em>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan <strong>perkataan dusta</strong> malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.</em>” (HR. Bukhari no. 1903)</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dimaksud dengan <em>az zuur</em>? As Suyuthi mengatakan bahwa <em>az zuur</em> adalah berkata dusta dan menfitnah (<em>buhtan</em>). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (<em>Syarh Sunan Ibnu Majah, </em>1/121, Maktabah Syamilah)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Jauhilah Perkataan <em>lagwu</em> (sia-sia) dan <em>rofats </em>(kata-kata porno)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan <em>lagwu</em> dan <em>rofats</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.</em>” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih At Targib wa At Tarhib</em> no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dimaksud dengan <em>lagwu</em>? Dalam <em>Fathul Bari</em> (3/346), Al Akhfasy mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Lagwu</em> adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang dimaksudkan dengan <em>rofats</em>? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل</p>
<p style="text-align:justify;">“Istilah <em>Rofats</em> digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al Azhari mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة</p>
<p style="text-align:justify;">“Istilah <em>rofats</em> adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain <em>rofats</em> adalah kata-kata porno.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Jauhilah Pula Berbagai Macam Maksiat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">“Ketahuilah, amalan <em>taqarrub</em> (mendekatkan diri) pada Allah <em>ta’ala</em> dengan meninggalkan berbagai syahwat yang mubah ketika di luar puasa (seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, -pen) <strong>tidak akan sempurna</strong> hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (<em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168, Asy Syamilah)</p>
<p style="text-align:justify;">Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus:</p>
<p style="text-align:justify;">“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat <em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168, Asy Syamilah)</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah puasa kebanyakan orang saat ini. Ketika ramadhan dan di luar ramadhan, kondisinya sama saja. Maksiat masih tetap jalan. Betapa banyak kita lihat para pemuda-pemudi yang tidak berstatus sebagai suami-istri masih saja berjalan berduaan. Padahal berduaan seperti ini telah dilarang dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, namun hal ini tidak diketahui dan diacuhkan begitu saja oleh mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu Abbas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.</em>” (HR. Bukhari, no. 5233)</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. </em>(HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini <em>shohih ligoirihi –</em>shohih dilihat dari jalur lain-)</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi dalam pacaran pasti ada saling pandang-memandang. Padahal Nabi kita –<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>- telah memerintahkan kita memalingkan pandangan dari lawan jenis. Namun, orang yang mendapat taufik dari Allah saja yang bisa menghindari semacam ini.<tt> Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,</tt></p>
<p style="text-align:justify;">سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu </em> <em>‘alaihi wa sallam</em> tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku. (HR. Muslim no. 5770)</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau di luar Ramadhan, perbuatan maksiat semacam ini saja jelas-jelas dilarang maka tentu di bulan Ramadhan lebih tegas lagi pelarangannya. Semoga kita termasuk orang yang mendapat taufik dari Allah untuk menjauhi berbagai macam maksiat ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut, “Mendekatkan diri pada Allah <em>ta’ala </em>dengan meninggalkan perkara yang mubah <strong>tidaklah akan sempurna</strong> sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam <em>Al Fath</em> (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan <em>zuur</em> (dusta) dan mengamalkannya:</p>
<p style="text-align:justify;">“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”</p>
<p style="text-align:justify;">Mula ‘Ali Al Qori dalam <em>Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih</em> (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (<em>ashlu</em>) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulannya</strong>: Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, memfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa Kalian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku</em>.” (HR. Muslim no. 1151)</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;">“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.</em>” (QS. Az Zumar [39]: 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda, <em>“Puasa adalah setengah dari kesabaran.”</em> (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir </em>no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini <em>dho’if</em> , -pen)</p>
<p style="text-align:justify;">Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.</em>” (QS. At Taubah [9]: 120).” -Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam <em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Selesai disusun menjelang Ashar di Panggang, Gunung Kidul<br />
22 Sya’ban 1429 H [bertepatan dengan 24 Agustus 2008]<br />
Semoga Allah membalas amalan ini</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: <a href="http://rumaysho.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align:justify;">Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=597&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/07/29/jangan-buat-puasa-kita-sia-sia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Begitu Sederhana, Hafalannya Luar Biasa</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/06/03/begitu-sederhana-hafalannya-luar-biasa/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/06/03/begitu-sederhana-hafalannya-luar-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 12:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah!!!. Dr Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut biasanya cuma disewa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=594&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah!!!.</p>
<p style="text-align:justify;">Dr Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut biasanya cuma disewa. Komentar beliau,</p>
<blockquote><p>“Palingkan pandanganmu dari topik ini. Sibukkan dirimu untuk mengurusi kepentingan kaum muslimin”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika Raja Faishal berkunjung ke kota Madinah dan Syeikh Ibnu Baz ketika itu adalah<strong> rektor Universitas Islam Madinah</strong>. Ketika itu raja Faishal berkunjung ke rumah Syeikh Ibnu Baz. Saat itu raja Faishal berkata kepada beliau,<span id="more-594"></span></p>
<blockquote><p>“Kami akan bangunkan rumah yang layak untukmu”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Menanggapi hal tersebut, beliau hanya diam dan tidak berkomentar. Akhirnya rumah pun dibangun. Ketika panitia pembangunan mau membuat surat kepemilikan rumah atas nama Syeikh Ibnu Baz beliau berkata,</p>
<blockquote><p>“Jangan. Buatlah surat kepemilikan rumah tersebut atas nama rektor Universitas Islam Madinah sehingga jika ada rektor baru penggantiku maka inilah rumah kediamannya”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Ibnu Baz itu memiliki daya ingat yang luar biasa. Jika kita bertemu dan mengucapkan salam kepada beliau dan kita pernah mengucapkan salam kepada beliau beberapa tahun sebelumnya maka beliau pasti masih mengenal kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ada orang yang bercerita bahwa dia bertemu dan mengucapkan salam kepada Syeikh Ibnu Baz setelah lima belas tahun ternyata Syeikh Ibnu Baz masih ingat dengan namanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi yang lebih mengherankan adalah kemampuan beliau untuk menghafal jilid dan halaman buku. Bahkan beliau bisa mengoreksi beberapa buku dengan bermodalkan hafalan beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Syinqithi, penulis <em>Adhwa-ul Bayan</em>, itu tergolong guru Syeikh Ibnu Baz. Beliau adalah seorang pakar dalam ilmu syar’i dengan kekuatan hafalan yang tidak tertandingi. Syeih Ibnu Baz sering menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syiekh Syinqithi. Beliau kagum dengan cepatnya Syeikh Syinqithi dalam penyampaiannya. Dalam salah satu kaset Syeikh Ibnu Baz mengungkapkan kekagumannya dengan mengatakan, “<em>Maa syaallah. Maa syaallah</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hari Syeikh Syinqithi sejak usai shalat Shubuh sampai watu dhuha mencari-cari sebuah hadits yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir ada dalam sunan Abu Daud. Beliau bolak-balik kitab sunan Abu Daud namun beliau tidak kunjung mendapatkannya. Syeikh Syinqithi berkata,</p>
<blockquote><p>“Aku tidak menyalahkan Ibnu Katsir namun aku belum mendapatkannya. Ketika aku sedang asyik mencari tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Aku lantas berdiri dan membuka pintu”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ternyata Syeikh Ibnu Baz yang datang bertamu. Ketika Ibnu Baz masih di depan pintu dan belum masuk ke dalam rumah, Syeikh Syinqithi berkata,</p>
<blockquote><p>“Ya Syekh Abdul Aziz, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits yang bunyinya demikian dan demikian itu ada di Sunan Abu Daud. Sejak usai shalat Shubuh kucari-cari hadits tersebut namun tidak kudapatkan. Di manakah hadits tersebut?”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Ibnu Baz berkata,</p>
<blockquote><p>“Ada…ada di kitab ini halaman sekian”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Syinqithi,</p>
<blockquote><p>“Sekarang silahkan masuk ya Syeikh”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Ibnu Baz memiliki daya ingat yang luar biasa. Ini disebabkan tentunya karunia Allah kemudian beliau adalah seorang yang tidak pernah lepas dari berdzikir. Lisan beliau selalu basah untuk berdzikir mengingat Allah. Beliau senantiasa berdzikir. Ini adalah sebuah realita yang bisa disaksikan oleh orang yang bertemu dengan beliau meski sejenak.</p>
<p style="text-align:justify;">Syeih Ibnu Baz mulai mengisi kajian dan menyebaran ilmu sejak belia. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh sebuah majalah yang bernama al Majallah dengan Ibnu Baz terdapat dialog sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Majallah, “Sungguh engkau adalah seorang hakim akan tetapi engkau mendapatkan popularitas yang luas berbagai dengan para hakim yang lain. Apa rahasianya?”<br />
Jawaban beliau,</p>
<blockquote><p>“Kami bertugas sebagai hakim. Setelah jam kerja berakhir kami mengisi berbagai kajian. Kami adakan berbagai kajian keislaman dan kami terus mengajar dan mengisi pengajian sehingga Allah jadian kami manusia yang bermanfaat bagi banyak orang”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Beliau memang memiliki pandangan khas tentang tugas seorang hakim peradilan syariah. Beliau berpandangan bahwa seorang hakim tidak cukup dengan menjalankan tugasnya di pengadilan. Beliau mencela para hakim yang bersikap semacam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau pernah mengatakan,</p>
<blockquote><p>“Jika seorang hakim hanya mencukupkan diri memutuskan sengketa tentang onta, keledai, sapi dan kambing atau semisalnya maka tidak ada kebaikan pada dirinya. Bahkan tugas hakim yang paling penting adalah <em>amar makruf nahi munkar</em>, berdakwah, memperbaiki lingkungan sekitarnya, mewujudkan kemaslahatan kaum muslimin dan menghubungkan orang-orang yang memerlukan untuk dihubungkan”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ketika Ibnu Baz menjadi hakim di daerah Dalm, beliau memiliki kursi terbuat dari tanah di tengah-tengah pasar. Di situlah beliau memutuskan berbagai sengketa yang terjadi di antara kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">sumber : http://ustadzaris.com/begitu-sederhana-hafalannya-luar-biasa</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/594/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=594&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/06/03/begitu-sederhana-hafalannya-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Ujian Kemiskinan</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/30/di-balik-ujian-kemiskinan/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/30/di-balik-ujian-kemiskinan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 02:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Al Imam an-Nawawi di dalam kitabnya &#8220;Riyadhus Shalihin&#8221; telah menulis satu bab, yaitu &#8220;Keutamaan Fakir&#8221;. Ada sebagian peneliti kitab ini yang menggarisbawahi bab tersebut, yakni berkaitan dengan ucapan imam an-Nawawi tentang keutamaan fakir. Dia berkata, &#8220;Bagaimana seorang fakir memiliki keutamaan sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung kepada Allah dari kefakiran?&#8221; Jika diteliti, ucapan Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=590&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Al Imam an-Nawawi di dalam kitabnya &#8220;Riyadhus Shalihin&#8221; telah menulis  satu bab, yaitu &#8220;Keutamaan Fakir&#8221;. Ada sebagian peneliti kitab ini yang  menggarisbawahi bab tersebut, yakni berkaitan dengan ucapan imam  an-Nawawi tentang keutamaan fakir. Dia berkata, &#8220;Bagaimana seorang fakir  memiliki keutamaan sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah  berlindung kepada Allah dari kefakiran?&#8221;</p>
<p>Jika diteliti, ucapan  Imam an-Nawawi tersebut ternyata lebih mendalam maknanya daripada ucapan  si peneliti. Imam an-Nawawi juga mengetahui bahwa Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam berlindung dari kefakiran. Hanya saja apa yang beliau  ucapkan adalah untuk menekankan dan mengingatkan pembaca tentang sesuatu  yang mungkin tidak diketahui, yaitu besarnya pahala ujian kefakiran  ini, yang disyariatkan untuk berlindung darinya. Beliau menyampaikan  adab seorang fakir yang terdiri dari dua hal:<span id="more-590"></span></p>
<p><strong>Pertama;</strong></p>
<p>Berlindung  kepada Allah subhanahu wata’ala darinya. Dan memohon kepada Allah agar  diberikan kecukupan dan penjagaan kehormatan, berdasarkan keumuman dalil  yang menunjukkan disyariatkannya berlindung kepada Allah subhanahu  wata’ala dari bala’. Dan juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  telah berlindung kepada Allah dari kefakiran serta memerintahkan hal  itu.</p>
<p>Beliau mengucapkan,</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah sesungguhnya aku  berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran, dan aku berlindung  kepada-Mu ari adzab kubur, tidak ada ilah yang hak disembah selain  Engkau.&#8221;</em></p>
<p>Beliau juga bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Berlindunglah kalian kepada Allah dari kefakiran, kekurangan, kehinaan dan dari berbuat zhalim atau dizhalimi.&#8221;</em> (Silsilah shahihah, no 1445)</p>
<p><strong>Ke dua;</strong></p>
<p>Rela  terhadap ketetapan Allah subhanahu wata’ala. Jika seorang muslim  tertimpa kemiskinan atau kekurangan harta maka hendaklah dia bersabar  dan rela dengan takdir Allah, karena tidaklah Allah subhanahu wata’ala  menciptakan kefakiran melainkan hanya untuk memilah dan menguji hamba.  Allah subhanahu wata’ala menjelaskan hal itu dengan sangat gamblang  dalam firman-Nya, artinya,</p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan  cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,  jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang  yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka  mengucapkan, &#8220;Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun&#8221;.</em> (QS. 2:155-156)</p>
<p>Coba  kita perhatikan bagaimana Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan  kekurangan harta sebagai bagian dari bala’ yang dengannya Dia menguji  manusia. Dan bagaimana pula Allah subhanahu wata’ala menisbatkan ujian  tersebut dari diri-Nya dalam firman-Nya, <em>&#8220;Sungguh Kami akan menguji kalian.&#8221;</em> Kemudian perlu kita renungkan pula bagaimana Allah menyebut kekurangan  harta sebagai musibah, bagaimana pula Dia memberikan kabar gembira bagi  orang-orang yang sabar menerima ujian kefakiran dan kekurangan tersebut.  Dia pun mengajarkan kepada mereka adab kesabaran berupa istirja’  (mengembalikan urusan kepada Allah dengan mengucap inna lillahi wa inna  ilaihi raaji’un) dan menjanjikan bagi mereka rahmat dan kesejahteraan.</p>
<p>Saudaraku,  para fakir! Anda diciptakan di muka bumi ini, namun kadang anda  terhalang untuk mendapatkan kelezatannya. Itu tidak lain untuk menguji  kadar keimanan anda dan agar diketahui bagaimana sikap anda, apakah anda  menggerutu dan ingkar ataukah anda bersikap rela dan sabar.</p>
<p>Ingatlah,  bahwa semua orang yang ada di muka bumi ini sedang diuji, orang fakir  diuji dengan kefakirannya dan orang kaya diuji dengan kekayaannya.  Ketika Allah subhanahu wata’ala memuliakan Nabi Sulaiman dengan harta  dan kerajaan maka beliau berkata, <em>&#8220;Ini adalah keutamaan dari Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah justru kafir.&#8221;</em> Maka selayaknya seorang fakir juga berkata, &#8220;Ini adalah ketetapan  Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersabar ataukah ingkar.&#8221; Bahkan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ujian  kefakiran itu lebih ringan dibandingkan ujian kekayaan.</p>
<p>Saudaraku,  janganlah engkau bersedih hati dengan kefakiranmu, hadapi kefakiran  dengan dua hal; Berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala darinya, dan  bersabar atasnya.</p>
<p><strong>SEBAB-SEBAB KEFAKIRAN</strong></p>
<p><strong>1.Lemah dan Malas</strong></p>
<p>Penyakit  lemah dan malas terkadang menjadi salah satu sebab dari kefakiran bagi  seorang muslim. Karena Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia  dalam keadan memiliki potensi untuk berusaha dan bekerja di muka bumi,  serta diberi kemampuan untuk berjuang mencari rizki. Oleh karenanya Dia  berfirman, artinya,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.&#8221;</em> (QS. 90:4)</p>
<p>Susah  payah mengharuskan seseorang untuk berusaha, bekerja keras dan berjuang  untuk memperoleh rezeki dan keberkahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam banyak-banyak berlindung dari sikap malas dan lemah, beliau  bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kegelisahan  dan kesedihan, dari sifat lemah dan malas, dari sikap pengecut dan  kikir, dari belitan hutang dan tekanan orang.&#8221;</em> (HR. al-Bukhari)</p>
<p><strong>2.Dosa dan Maksiat</strong></p>
<p>Kefakiran  dan kemelaratan merupakan bagian dari musibah, yang terkadang  disebabkan karena kemaksiatan sebagaimana musibah yang lain pada  umumnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,</p>
<p><em>&#8220;Dan  apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan  tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari  kesalahan-kesalahanmu).&#8221;</em> (QS. 42:30)</p>
<p>Ibu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, <em>&#8220;Sesungguh  nya kebaikan itu sinar di wajah, cahaya di dalam hati, kekuatan di  badan, keluasan dalam rezeki, kecintaan di dalam hati setiap orang.  Sedangkan keburukan adalah kemuraman di wajah, kegelapan di hati,  kelemahan di badan, mengurangi rezeki, dan penyebab kebencian di hati  orang.&#8221;</em></p>
<p>Maka cukuplah kemaksiatan itu akan menghilangkan keberkahan, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, <em>&#8220;Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rizki dengan sebab dosa yang dia kerjakan.&#8221;</em> (HR. Ahmad &amp; Ibnu Majah)</p>
<p>Terhalangnya  seseorang dari rezeki mungkin dengan lenyapnya rezeki tersebut, atau  berkurang jumlahnya, atau tidak memberinya manfaat sehingga meskipun  harta yang dimiliki sangat banyak, namun justru menjadi bencana baginya.</p>
<p>Oleh  karena itu selayaknya masing-masing kita melihat seberapa banyak telah  melakukan dosa, menyia-nyiakan shalat, kurang takut kepada Allah  subhanahu wata’ala, tidak mau bersilaturrahim dengan kerabat, buruk  pergaulan dengan sesama muslim dan lain-lain. Kalau kita menyadari, maka  sungguh tidak ada seorang pun di antara kita yang lepas dari berbuat  dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, <em>&#8220;Seluruh bani Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.&#8221;</em> (HR. at-Tirmidzi)</p>
<p><strong>3. Penjagaan Allah subhanahu wata’ala kepada Hamba</strong></p>
<p>Allah  subhanahu wata’ala itu Maha Tahu, boleh jadi jika seorang hamba diberi  kekayaan, justru akan menjadikannya celaka di dunia dan di akhirat, atau  akan menjadikan dia sombong dan besar kepala yang berakibat pada  turunnya siksa dan bencana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah Ta’ala menjaga hamba-Nya yang  beriman dari dunia ini, padahal Dia mencintainya. Sebagaimana kalian  semua berhati-hati (menjaga) orang sakit dalam memberi makan dan minum,  karena khawatir terhadapnya.&#8221;</em> (HR. Ahmad, terdapat di Shahih al-Jami no. 181)</p>
<p><strong>4.Telah Ditetapkan Memperoleh Kedudukan di Sisi Allah subhanahu wata’ala</strong></p>
<p>Termasuk  besarnya kemuliaan dan kemurahan Allah subhanahu wata’ala adalah Dia  memuliakan hamba-Nya sebelum hamba itu melakukan suatu prestasi, dan Dia  telah menulis untuk seorang hamba satu kedudukan yang tidak mungkin  hamba tersebut mencapainya hanya dengan amal perbuatannya. Sehingga dia  memberikan kebaikan dengan cara mengujinya, baik itu dalam harta, anak,  atau badannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya  jika seorang hamba telah ditulis baginya satu kedudukan yang tidak  mampu dia capai dengan amalnya, maka Allah mengujinya di dalam harta  atau badan atau anaknya.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Dan kedudukan yang  tinggi hanya dicapai oleh seorang mukmin. Maka ketika ada seseorang  datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, <em>&#8220;Sungguh aku mencintaimu.&#8221;</em> Maka Nabi menjawab, <em>&#8220;Siapkan dirimu menjadi orang fakir.&#8221;</em> Wallahu a’lam.</p>
<p><em>Sumber: Buku saku &#8220;Risalah ila Faqir&#8221; Dept. Ilmiyah Darul Wathan (Kholif Mutaqin/alsofwah)</p>
<p>http://www.kajianislam.net/modules/wordpress/2009/01/28/di-balik-ujian-kefakiran/</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=590&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/30/di-balik-ujian-kemiskinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Dibolehkannya Musik Ternyata Tidak Shahih</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/20/hadits-dibolehkannya-musik-ternyata-tidak-shahih/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/20/hadits-dibolehkannya-musik-ternyata-tidak-shahih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 14:54:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ وقَدْ رَشَّ حَسَّانُ فِنَاءَ أَطِمِهِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِمَاطَينِ وَبَيْنَهُمْ جَارِيةٌ لِحسَّانَ يُقَالُ لَـهَا سِيرِينُ، وَمَعَهَا مِزْهَرٌ لَهَا تُغَنِّيهِمْ وَهِيَ تَقُولُ فِي غِنَائِهَا: هَلْ عَلَيَّ وَيْحَكُمْ * إنْ لَهَوْتُ مِنْ حَرَجٍ. فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=588&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma:</p>
<p>أَنَّ   رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ وقَدْ رَشَّ  حَسَّانُ  فِنَاءَ أَطِمِهِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  سِمَاطَينِ وَبَيْنَهُمْ جَارِيةٌ لِحسَّانَ يُقَالُ  لَـهَا سِيرِينُ، وَمَعَهَا  مِزْهَرٌ لَهَا تُغَنِّيهِمْ وَهِيَ تَقُولُ  فِي غِنَائِهَا: هَلْ عَلَيَّ  وَيْحَكُمْ * إنْ لَهَوْتُ مِنْ حَرَجٍ.  فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: لاَ  حَرَجَ</p>
<p><em>Bahwasanya Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa  sallam keluar ketika Hassan1 radhiyallahu &#8216;anhu telah menyirami  halaman  tempat tinggalnya, sementara para sahabat radhiyallahu &#8216;anhum duduk dua   shaf, di tengah-tengah mereka budak perempuan milik Hassan  radhiyallahu &#8216;anhu  bernama Sirin membawa mizhar-nya (sejenis alat musik  berdawai seperti kecapi)  berdendang untuk para sahabat. Dalam  nyanyiannya dia mengatakan: “Celaka! Apakah  ada atasku * dosa jika aku  berdendang?” Maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam tersenyum  seraya bersabda: “Tidak mengapa (tidak ada dosa atasmu).”</em></p>
<p>Sepintas,  siapapun yang membaca hadits ini akan berkesimpulan bahwa nyanyian dan   alat musik adalah sesuatu yang wajar dan boleh-boleh saja. Demikian  dipahami  dari zhahir hadits ini. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam memberikan  hukum atas perbuatan budak Hassan bin Tsabit  radhiyallahu &#8216;anhu dengan sabda  beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:  “La haraj” (tidak mengapa), yang  menunjukkan kebolehan apa yang  dilakukan Sirin, budak perempuan Hassan bin  Tsabit radhiyallahu &#8216;anhu.<span id="more-588"></span></p>
<p>Dalam  hadits ini juga terdapat taqrir  (persetujuan) Nabi Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam kepada para sahabat  radhiyallahu &#8216;anhum yang menikmati  mizhar dan mendengarkan alunan suara Sirin.  Sehingga dipahami bahwa  perbuatan tersebut adalah perkara mubah, sebagaimana  telah ditetapkan  dalam ilmu ushul bahwa persetujuan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam  atas perbuatan yang dilakukan di hadapan beliau menunjukkan bolehnya   perbuatan tersebut.</p>
<p><strong>Tinjauan Sanad Hadits</strong></p>
<p>Ibnu  ‘Asakir2 menyebutkan hadits Abdullah bin ‘Abbas  radhiyallahu &#8216;anhuma  di atas dalam kitab beliau Tarikh Dimasyq (12/415) dari  jalan Abu  Uwais, dari Al-Husain bin Abdillah, dari ‘Ikrimah, dari Abdullah bin   ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu &#8216;anhuma.</p>
<p>Hadits  ini tidak  shahih dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahkan  tergolong hadits  yang maudhu’ (palsu). Abul Faraj Ibnul Jauzi  memasukkannya dalam kitab beliau  Al-Maudhu’at (3/115-116) pada bab Fi  Ibahatil Ghina (Bab Tentang Bolehnya  Nyanyian). Asy-Syaikh Muhammad  Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam takhrij  beliau terhadap  risalah Ada`u Ma Wajaba Min Bayani Wadh’il Wadhdha’ina Fi Rajab  (hal.  150) mengatakan bahwa hadits ini bathil3.</p>
<p>Batilnya hadits Ibnu  ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma dapat diketahui dari beberapa tinjauan.</p>
<p>Pertama,  kelemahan sanadnya.</p>
<p>Kedua, penyelisihannya terhadap Al-Qur`an.</p>
<p>Ketiga,  penyelisihannya terhadap As-Sunnah yang shahih.</p>
<p>Keempat,  hadits ini sangat  bertentangan dengan keadaan sahabat Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  sebagai generasi terbaik, yang sangat  menjaga batasan-batasan Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala dan sangat jauh dari  perkara-perkara yang diharamkan.</p>
<p>Empat  tinjauan inilah yang insya Allah akan dibahas pada kesempatan kali  ini.</p>
<p>Diawali  dari tinjauan sanad hadits, kita dapatkan dalam hadits ini  dua orang  perawi yang diperbincangkan yaitu Al-Husain bin ‘Abdillah dan Abu   Uwais.</p>
<p>Perawi pertama, dia adalah Al-Husain bin ‘Abdillah bin ‘Ubaidillah  bin ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi Al-Madani.</p>
<p>Berikut kita  nukilkan hukum ulama Al-Jarh wa At-Ta’dil tentang Al-Husain bin  ‘Abdillah.4</p>
<p>Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata dalam riwayat  Al-Atsram:</p>
<p>“Lahu asy-ya`u munkarah (Dia mempunyai beberapa perkara  mungkar).”</p>
<p>Yahya bin Ma’in rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Huwa dha’if (Dia  lemah).”</p>
<p>Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Laisa bi qawiyyin  (Dia bukanlah orang yang kuat).”</p>
<p>Abu Hatim Ar-Razi rahimahullahu  berkata:</p>
<p>“Dha’iful hadits (Haditsnya lemah).”5</p>
<p>An-Nasa`i rahimahullahu  berkata:</p>
<p>“Matruk (Ditinggalkan).”6</p>
<p>Al-Jauzajani rahimahullahu  berkata:</p>
<p>“Laa yusytaghal bi haditsihi (Tidak disibukkan dengan  haditsnya).”7</p>
<p>Ibnu Hibban rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Yuqallibul asanid wa  yarfa’ul marasil (Dia membolak-balik sanad dan me-marfu’-kan yang  mursal).”8</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:</p>
<p>“Dha’if  (lemah).”9</p>
<p>Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Maudhu’at  (3/116) –setelah menyebutkan hadits di atas–:</p>
<p>“Adapun Al-Husain, ‘Ali bin  Al-Madini berkata tentangnya: “Taraktu haditsahu (Aku meninggalkan  haditsnya).”10</p>
<p>An-Nasa`i berkata:</p>
<p>“Matrukul  hadits (Haditsnya  ditinggalkan).” As-Sa’di berkata: “Laa yusytaghal bi  haditsihi (Tidak disibukkan  dengan haditsnya).”</p>
<p>Dari  perkataan-perkataan ulama Al-Jarh wa At-Ta’dil  di atas didapatkan bahwa  mereka bersepakat akan kedhai’fan (kelemahan)  Al-Husain. Hal ini  tentunya mengakibatkan lemah dan tertolaknya hadits yang   diriwayatkannya. Oleh karena itulah Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu  dalam  kitab beliau Mizanul I’tidal (2/292) memasukkan hadits Ibnu  ‘Abbas radhiyallahu  &#8216;anhuma ini sebagai salah satu dari  kemungkaran-kemungkaran hadits Al-Husain bin  ‘Abdillah.</p>
<p>Tentang perawi kedua yaitu Abu Uwais, berkata Ibnul  Jauzi:</p>
<p>“  Abu Uwais, namanya adalah ‘Abdullah bin ‘Abdillah bin Uwais. Ahmad   (bin Hanbal) dan Yahya (bin Ma’in) berkata: “Dha’iful hadits (Haditsnya   lemah).”</p>
<p>Dan Yahya pernah berkata: “Kana yasriqul hadits (Adalah dia mencuri  hadits).” (Al-Maudhu’at 3/116)</p>
<p>Adz-Dzahabi berkata tentang Abu  Uwais:</p>
<p>“Laisa biqawiyyin (Dia bukan orang yang kuat).”11</p>
<p><strong>footnote</strong>:</p>
<p>1  Beliau adalah Hassan bin Tsabit bin Al-Mundzir bin Haram Al-Anshari   Al-Khazraji, penyair Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau  meninggal  tahun 54 H. Lihat Taqrib At-Tahdzib karya Ibnu Hajar  Al-’Asqalani.</p>
<p>2 Beliau  adalah Al-Hafizh Abul Qasim ‘Ali bin  Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdillah  Asy-Syafi’i. Beliau lebih dikenal  dengan sebutan Ibnu ‘Asakir, meninggal tahun  571 H. 3 Lafadz bathil  ketika digunakan untuk menghukumi sebuah hadits, semakna  dengan lafadz  maudhu’ atau makdzub atau hadza min ifkihi. Semuanya adalah   lafadz-lafadz sharih (jelas) yang menunjukkan akan kepalsuan hadits.  Wallahu  a’lam.</p>
<p>4 Lafadz-lafadz jarh (pencacatan rawi) tersebut  adalah istilah yang  harus dipahami dan dicermati secara khusus dalam  ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil.  Semua ibarat yang dilontarkan terhadap  Al-Husain bin ‘Abdillah dan Abu Uwais  adalah jarh (pencacatan) terhadap  keduanya. Wallahu a’lam.</p>
<p>5 Ucapan Al-Imam  Ahmad bin Hanbal,  Yahya bin Ma’in, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Zur’ah Ar-Razi, dan  An-Nasa`i  disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi dalam kitab beliau Al-Jarh Wa   At-Ta’dil (2/57).</p>
<p>6 Lihat Adh-Dhu’afa` wal Matrukin karya Al-Imam  An-Nasa`i  (1/33). Ibnu Abi Hatim juga menukilkan ucapan An-Nasa`i dalam  Al-Jarh wa  At-Ta’dil (2/57).</p>
<p>7 Lihat Asy-Syajarah Fi Ahwalir Rijal karya Al-Jauzajani,  hal. 240.</p>
<p>8 Lihat Al-Majruhin karya Ibnu Hibban Al-Busti (1/242).</p>
<p>9 Lihat  Taqribut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani.</p>
<p>10  Ucapan ‘Ali bin  Al-Madini disebutkan Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa  At-Ta’dil (2/57). Lihat  juga Ad-Dhu’afa` karya Al-‘Uqaili (1/245).</p>
<p>11 Mizanul I’tidal karya  Adz-Dzahabi (2/292).</p>
<p>sumber : http://www.facebook.com/notes/yasha-felani/hadits-musik-dari-abdullah-bin-abbas-radhiallahuanhuma-ternyata-tidak-shahih-/10150107693487531</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/588/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/588/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=588&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/03/20/hadits-dibolehkannya-musik-ternyata-tidak-shahih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Faidah Tafsir Ihdinash Shirathal Mustaqim</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/02/09/sekelumit-faidah-tafsir-ihdinash-shirathal-mustaqim/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/02/09/sekelumit-faidah-tafsir-ihdinash-shirathal-mustaqim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 02:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Badru Salam, Lc. اهدنا الصراط المستقيم beri kami hidayah menuju jalan yang lurus. Hidayah ada dua macam: Hidayah irsyad berupa ilmu. Hidayah taufiq berupa kekuatan untuk mengamalkan ilmu sesuai manhaj yang benar. Kita senantiasa diperintahkan meminta hidayah setiap kali shalat mengapa? Ibnu Qayyim menjawab bahwa hidayah Allah amat banyak, karena ilmu Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=585&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Oleh : Ustadz Badru Salam, Lc.</strong></p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong>اهدنا الصراط المستقيم</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>beri kami hidayah menuju jalan yang lurus</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Hidayah ada dua macam:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Hidayah irsyad</em></strong> berupa ilmu.</li>
<li><strong><em>Hidayah taufiq</em></strong> berupa kekuatan untuk mengamalkan ilmu sesuai manhaj yang benar.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kita senantiasa diperintahkan meminta hidayah setiap kali shalat  mengapa? Ibnu Qayyim menjawab bahwa hidayah Allah amat banyak, karena  ilmu Allah amat luas dan kebutuhan kita kepada ilmu sebanyak tarikan  nafas kita setiap waktu kata imam Ahmad.Bila  kita telah mendapat hidayah dalam aqidah dan ibadah maka apakah kita  telah mendapat hidayah dalam tingkah laku kita, cara berpakaian kita,  gaya hidup kita? Masih banyak ilmu yang belum kita ketahui. Oleh karena  itu amat layak bila kita selalu minta hidayah di setiap kali shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara ibnu Katsir memandang bahwa permohonan kita untuk diberi  hidayah setiap kali shalat walaupun kita telah mendapatkannya memberikan  sinyal agar kita senantiasa diberikan istiqamah dalam berpegang kepada  hidayah. Karena untuk langgeng diatas hidayah amat berat dan terjal  butuh kekuatan berupa taufiq dari Allah, maka kita terus memohon hidayah  agar dapat istiqamah sampai akhir hayat kita.<span id="more-585"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana mendapatkan hidayah?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan hidayah harus terpenuhi syarat dan hilang penghalangnya. Adapun syaratnya adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Keinginan untuk mendapat hidayah disertai usaha untuk meraihnya.</li>
<li>Cinta kepada hidayah dan mendahulukannya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dan ini tentunya membutuhkan hati yang baik, karena hujan dapat diresap oleh tanah yang subu nan gembur.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penghalang hidayah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun penghalang hidayah adalah banyak, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>Sombong.</strong> Sebagaimana iblis enggan untuk sujud kepada Adam karena kesombongannya.</li>
<li><strong>Hasad alias dengki</strong>. Seperti Yahudi yang hasad karena ternyata Nabi Terakhir itu muncul bukan dari banu israil tapi dari banu ismail.</li>
<li><strong>Lebih mendewakan akal di atas dalil</strong>.</li>
<li><strong>Berbaik sangka kepada nenek moyang dan fanatik kepadanya</strong>.</li>
<li><strong>Lebih mendahulukan teman-teman yang buruk</strong> yang menyeretnya kepada kebinasaan.</li>
<li>Dan lain-lain.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fawaid :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tunjuki kami ke jalan-Mu yang lurus. </em></strong>Dalam  ayat itu kita diperintah untuk memohon hidayah kepada jalan yang lurus,  dan jalan yang lurus itu adalah jalan yang dipancangkan oleh Allah Azza  wa Jalla, siapa saja yang mencari jalan lainnya maka ia tidak akan  sampai kepada Allah kata ibnu Qayyim.</p>
<p style="text-align:justify;">Jalan itu mempunyai sifat-sifat yang hendaknya kita ketahui, diantaranya:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.  Satu tak berbilang.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jalan menuju Allah hanya satu tak berbilang, oleh karena itu ketika  Nabi mengabarkan bahwa umat islam berpecah belah kepada 73 golongan,  beliau mengabarkan bahwa yang selamat hanya satu saja. Ini menunjukkan  bahwa jalan kebenaran hanya satu saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Jalan Rasulullah dan para shahabatnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana dijelaskan oleh nabi bahwa golongan yang selamat itu  adalah Rasulullah dan shahabat diriwayatkan abu dawud dan dihasankan  oleh syaikh Al Bani.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap tafrith (menganggap enteng).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana islam tengah-tengah antara yahudi dan nashrani demikian  pula jalan kebenaran, ia bersifat wasath (tengah-tengah) diantara kaum  yang ghuluw dan kaum yang tafrith.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Hanya fanatik kepada Allah dan RasulNya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena kebenaran hanya yang bersumber dari Al Qur’an dan sunnah maka  fanatik mereka hanya kepada keduanya, bukan kepada fulan dan ‘Allan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Lebih mendahulukan wahyu di atas ra’yu.</strong></p>
<pre>Dicuplik dari Kajian Ustadz Badru Salam, Lc.
Di Forum BBM Pengusaha Muslim 2
Diposting dengan Smartphone HTC Snap</pre>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/585/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=585&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2011/02/09/sekelumit-faidah-tafsir-ihdinash-shirathal-mustaqim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekarang dan Masa Depan</title>
		<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2010/12/10/sekarang-dan-masa-depan/</link>
		<comments>http://abualbinjy.wordpress.com/2010/12/10/sekarang-dan-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 00:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abualbinjy.wordpress.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang merajai pada hari pembalasan. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman, yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. Amma ba’du. Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. Sesuatu -yang belum jelas- menjadi tergambar indah dan menyenangkan dengan sekilas pandangan, padahal hanya sekilas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=581&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah, Yang merajai pada hari pembalasan. Salawat   dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman, yang   mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan   penuh kenikmatan. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kita tertipu oleh pandangan  sekilas. Sesuatu -yang belum  jelas- menjadi tergambar indah dan  menyenangkan dengan sekilas  pandangan, padahal hanya sekilas saja.  Namun, kalau diteliti dan  dicermati dampak-dampaknya serta  ujung-ujungnya, maka kebalikannya  justru yang dijumpai; kesedihan,  penyesalan dan penderitaan  berkepanjangan. <em>Subhanallah!<span id="more-581"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, saudaraku… kehidupan dunia dengan seabrek tipuan dan   sejuta kepalsuan ini tidak selayaknya melupakan seorang muslim akan   hakekat yang sebenarnya dari hidup yang dijalaninya. Kita yakini   bersama, hidup kita di alam dunia ini pasti berakhir, tidak kekal   selamanya. Setelah itu, kita akan memasuki alam akherat… Ya, alam   pembalasan pahala atau penjatuhan hukuman! Maka, kita harus cerdik dan   sabar. Cerdik dalam menyikapi segala macam kepalsuan tersebut agar kita   tidak tertipu olehnya. Dan sabar dalam menahan godaan yang menggiurkan   dari para penebar kebatilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (<strong>QS. al-Mulk: 2</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang palsu.”</em> (<strong>QS. al-Hadid: 20</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;   Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti menemui   kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui   yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah   kamu kerjakan.”</em> (<strong>QS. al-Jumu’ah: 8</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah   kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, sementara   Allah belum mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang   bersungguh-sungguh di antara kalian dan mengetahui siapakah orang-orang   yang bersabar.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 142</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Keberuntungan paling   besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu   dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu   kelak di hari akherat. Bagaimana mungkin dianggap berakal, seseorang   yang menjual surga demi mendapatkan sesuatu yang mengandung kesenangan   hanya sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan   keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan;   menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendali-  dan  menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. Apabila kamu merasa  takut  kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya  dan  menghindar darinya. Adapun Rabb (Allah) ta’ala, apabila kamu takut   kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya  dan  berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.”</em> (<em>al-Fawa’id</em>, hal. 34)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah wahai saudaraku -<em>semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya</em>- tiada bahagia tanpa takwa kepada-Nya. Sementara, takwa itu mencakup tiga tingkatan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan        keharaman. Apabila seseorang       melakukan hal ini hatinya akan tetap   hidup.</li>
<li>Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci. Apabila      seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat.</li>
<li>Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah- dan        segala urusan yang tidak penting. Apabila seseorang melakukan hal ini        hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani        ketaatan (lihat <em>al-Fawa’id</em>, hal. 34). <em>Allahul musta’aan</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : muslim.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abualbinjy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abualbinjy.wordpress.com/581/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abualbinjy.wordpress.com&amp;blog=2203468&amp;post=581&amp;subd=abualbinjy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abualbinjy.wordpress.com/2010/12/10/sekarang-dan-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b997580fff4c39766b343e740c8adfe7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abualbinjy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
