Posted by: abualbinjy on: Oktober 31, 2011
“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaqnya baik walaupun sedikit ‘ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]
“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ‘ilmunya masya Alloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]
“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaqnya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]
Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”1 . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaqnya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ‘ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ‘ilmunya terutama akhlaqnya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang ber’ilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.
Akhlaq adalah Salah Satu Tolak Ukur Iman dan Tauhid
Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ‘ilmu agama, karena akhlaq adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ‘ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah rodhiyalloohu ‘anha mengambarkan langsung akhlaq Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah rodhiyalloohu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlaq beliau adalah al-Quran” [H.R. Muslim (no. 746), Abu Dawud (no. 1342) dan Ahmad (6/54)]
Yang berkata demikian adalah A’isyah rodhiyalloohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer akhlaq seseorang adalah bagaimana akhlaqnya dengan istri dan keluarganya. Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib shohih. Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut shohih].
Akhlaq dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaqnya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlaq jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlaq jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.
Dan tolak ukur yang lain adalah taqwa sehingga Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam menggabungkannya dengan
akhlaq, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaqlah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [H.R. Tirmidzi (no. 1987) dan Ahmad (5/153). Abu ‘Isa at Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih]
Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’diy rohimahulloohu menjelaskan hadist ini,
“Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, merealisasikan ketaqwaannya dan berakhlaq kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlaq yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya.” [Bahjatu Qulubil Abror hal. 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]
Demikian pula sabda beliau shallalloohu ‘alaihi wasallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah taqwa kepada Alloh dan akhlaq yang mulia” [H.R. at-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani]
Tingginya ‘ilmu Bukan Tolak Ukur Iman dan Tauhid
Karena ‘ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ‘ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,
جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Q.S. al-Waqi’ah: 24]
Alloh ‘Azza wa Jalla tidak berfirman,
جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ
“Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”
Dan cukuplah peringatan langsung dalam al-Qur’an bagi mereka yang ber’ilmu tanpa mengamalkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Alloh bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” [Q.S. ash-Shaff : 3]
Dan bisa jadi ‘ilmunya tinggi karena dikaruniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ‘ilmu.
‘Ilmu Agama Hanya Sebagai Wawasan ?
Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ‘ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ‘ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui ke’ilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ‘ilmu agar menambah akhlaq dan amal kita.
Ibnul Qayyim rohimahulloohu mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ‘ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]
Sibuk Belajar ‘Ilmu Fiqh dan Ushul, Melupakan ‘Ilmu Akhlaq dan Pensucian Jiwa
Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ‘ilmu fiqh, ushul tafsir, ushul fiqh, ‘ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ‘ilmu akhlaq dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlaq kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam diutus adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai shohih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].
Akhlaq yang Mulia Juga Termasuk dalam Masalah ‘Aqidah
Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlaq mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloohu memasukkan penerapan akhlaq yang mulia dalam permasalahan ‘aqidah. Beliau berkata,
“Dan mereka (al-firqoh an-najiyah ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan) akhlaq yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallalloohu ‘alaihi wasallam, ‘Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka’. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat dzolim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlaq yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [Lihat Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah]
Bagi yang Sudah “Ngaji” Syaitan Lebih Mengincar Akhlaq Bukan ‘Aqidah
Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya insya Alloh sudah mempelajari ‘ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan menggoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak akhlaqnya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlaq jelak lainnya.
Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh ‘Azza wa Jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” [Q.S. al-A’raf: 16-17]
Kita Butuh Teladan Akhlaq dan Taqwa
Di saat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ‘ilmu tetapi kita lebih butuh teladan akhlaq dan taqwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlaq dan taqwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.
Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ‘ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlaq dan adab orang tersebut baru kita mengambil ‘ilmunya. Ibu Imam Malik rohimahulloohu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rohimahulloohu mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ‘ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ‘ilmunya!’. [Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, hal. 76 s.d. 78]
Kemudian pada komentar ketiga,
“Baru melihatnya saja, ana langsung teringat akhirat”
Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qoyyim rohimahulloohu berkata,
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [al Waabilush Shayyib hal. 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]
Sudah Lama “Ngaji” Tetapi Kok Susah Sekali Memperbaiki Akhlaq ?
Memang memperbaiki akhlaq adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlaq.
Berkata ‘Abdulloh bin Mubarok rohimahulloohu :
طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم
“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ‘ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ‘ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cet. pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]
Dan kita tetap terus menuntut ‘ilmu untuk memperbaiki akhlaq kita karena ‘ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.
Imam al Ghazali rohimahulloohu berkata,
“Kami dahulu menuntut ‘ilmu bukan karena Alloh ta’ala , akan tetapi ‘ilmu enggan kecuali hanya karena Alloh ta’ala.” [Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan Ust. Kholid Syamhudi, Lc, majalah as Sunnah].
Jadi hanya ada kemungkinan ‘ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ‘ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ‘ilmu agama maka insya Alloh ‘ilmu tersebut akan memperbaiki akhlaq kita dan pribadi kita.
Mari Kita Perbaiki Akhlaq untuk Dakwah
“orang salafi itu ‘ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri” [pengakuan seseorang kepada penyusun]
Karena akhlaq buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [H.R. Bukhori, Kitabul ‘Ilmi (no.69)]
Karena akhlaq yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahdzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlaq pendakwahnya yang mulia.
Jangan Lupa Berdoa Agar Akhlaq Kita Menjadi Baik
Dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiyalloohu ‘anhu bahwa Rosululloh shallalloohu ‘alaihi wasallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan :
,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ
وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ
“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlaq yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlaq yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” [H.R. Muslim (771), Abu Dawud (760), Tirmidzi (3419)]
Dan doa dijauhkan dari akhlaq yang buruk,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar” [H.R. Tirmidzi (no. 3591), dishohihkan oleh al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13]
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.
Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
27 Ramadhan 1432 H Bertepatan 27 Agustus 2011
Semoga Alloh meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlaq kami
Penyusun : Raehanul Bahraen
Artikel www.muslim.or.id
[1] ngaji : istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus shalih, istilah ini juga identik dengan penuntut ‘ilmu agama.