Beranda > Tazkiyatun Nufus > Menuju Kebahagiaan Kaum Muslimin

Menuju Kebahagiaan Kaum Muslimin

Sesungguhnya tidak diragukan lagi oleh setiap manusia yang berakal, bahwa suatu umat harus memiliki pembimbing yang menuntunnya menuju kebenaran. Dan umat Muhammad merupakan umat terbaik, umat yang paling berhak untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan menyeru kepada kebaikan, untuk mengikuti panutan mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini menjadi penyebab kebahagiaan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyiapkan diri untuk memberikan nasihat, pengarahan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, dia terbebas dari kewajiban, sedangkan orang lain bisa mendapatkan petunjuk dengan perantaraannya. Allah berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman. (QS adz-Dzariyat/51:55).
Sesuatu yang pasti, bahwa setiap manusia sangat membutuhkan peringatan tentang hak Allah, hak hamba dan motivasi untuk melaksanakan semua hak-hak tersebut. Setiap manusia membutuhkan untuk saling nasihat-menasihati dengan kebenaran dan al haq. Allah l telah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal perbuatan mereka yang terpuji. Allah juga memberitahukan sifat orang-orang yang merugi beserta penjelasan tentang amal perbuatan mereka yang tercela.

Penjelasan ini banyak didapatkan dalam ayat-ayat al Qur`an. Yang paling lengkap, yaitu penjelasan Allah Ta’ala dalam surat al ‘Ashr.
Allah Ta’ala :

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat- menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS al ‘Ashr/103: 1-3)

Dalam surat yang pendek ini, Allah telah menjelaskan kepada para hamba-Nya tentang sebab-sebab keberuntungan. Sebab-sebab itu terangkum dalam empat point, yaitu: Pertama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, beramal shalih. Ketiga, saling memberi nasihat dengan kebenaran. Keempat, saling memberi nasihat dengan kesabaran.

Barangsiapa memiliki empat faktor ini dengan sempurna, maka dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar, berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala . Dan pada hari Kiamat, dia mendapatkan kenikmatan abadi. Sebaliknya, orang yag menentang sifat-sifat ini dan tidak mau berakhlak dengannya, maka dia sangat merugi dan tempat kembalinya ialah neraka Jahim.

Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang beruntung dalam kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala menjelaskan macam-macamnya. Dan penjelasan-Nya diulang beberapa kali di pelbagai tempat dalam al Qur`an, supaya bisa diketahui oleh orang yang ingin selamat; lalu ia bisa berakhlak dan mendakwahkannya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala juga telah menjelaskan sifat orang-orang yang merugi dalam banyak ayat, agar sifat-sifat itu diketahui oleh kaum Mukminin, (yang) selanjutnya dijauhi. Siapa saja yang merenungkan al Qur`an dan sering membacanya, dia akan bisa mengetahui secara detail sifat orang-orang yang beruntung dan merugi. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat, di antaranya adalah ayat di atas. Di antaranya juga firman Allah ‘Azza wa jalla :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS al Isra`/17:9).

Firman Allah Ta’ala :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapatkan pelajaran. (QS Shad/38 : 29).

Firman Allah Ta’ala :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥)

Dan al Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (QS al An’am/6:155).

Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Orang yang terbaik di antara kalian, yaitu orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an.

Dalam khutbahnya n di hadapan para pemimpin syuhada’ pada hari ‘Arafah saat haji Wada`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا لَمْ تَضِلُّوا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

Aku tinggalkan sesuatu di tengah-tengah kalian; kalian tidak akan tersesat, selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah.

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan tujuan diturunkannya al Qur`an. Yaitu supaya para hamba merenungi, mempelajari, mengikutinya dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menempuh faktor-faktor kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar para hamba mempelajari dan mengajarkan al Qur`an. Rasulullah n menjelaskan, orang terbaik ialah Ahlul Qur`an. Maksudnya, orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an kepada orang lain untuk diamalkan, diikuti, berhukum dengannya, dan tidak melanggar batasan-batasannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan di hadapan khalayak pada hari ‘Arafah. Bahwasanya mereka tidak akan tersesat, selama berpegang dengan Kitab Allah dan berjalan di atas syari’atnya. Saat para salafush-shalih; generasi awal umat ini istiqamah di atas tuntunan al Qur`an dan mengikuti perihidup Rasulullah, maka Allah memberikan kemulian kepada mereka, mengangkat derajat mereka dan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi. (Yakni) sebagai bukti dari janji Allah dalam firman-Nya, yang artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS an-Nur/24:55).
Dan firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad/47:7).
Firman Allah Ta’ala :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٤٠)الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya; Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa; (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS al Hajj/22 : 40-41)
Wahai, kaum Muslimin!
Renungilah kitab Rabb kalian! Seringlah membacanya! Laksanakan perintah-perintah yang ada padanya, dan jauhilah larangan-larangan yang tertera di dalamnya! Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dipuji oleh al Qur`an. Bergegaslah untuk melaksanakannya, dan hiasilah diri kalian dengan akhlak tersebut!

Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dicela al Qur`an; dan pelakunya diancam (dengan ancaman siksa, Red.). Waspadailah dan jauhilah!

Saling nasihat-menasihatilah di antara kalian, serta bersabarlah sampai kematianmu. Dengan melaksanakan semua itu, berarti kalian berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala , mendapatkan keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat.

Di antara kewajiban yang terpenting bagi seorang muslim, yaitu kewajiban memperhatikan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , berusaha memahaminya dan berjalan di atasnya. Karena Sunnah merupakan wahyu kedua, penjelas bagi al Qur`an Kitabullah, dan menunjukkan makna yang terkadang belum difahami. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur`an:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٤٤)

Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS an-Nahl/16 : 44)
Firman Allah Ta’ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)

Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl/16 : 89).
Firman Allah Ta’ala :

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS an-Nahl/16 : 64)
Allah berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS al Ahzab/33 : 21)
Allah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS an-Nur/24 : 63)

Ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban mengikuti Sunnah, mengagungkannya, berpegang teguh dengannya, peringatan agar tidak menyimpang darinya atau meremehkannya, sangatlah banyak. Ayat-ayat ini bisa diketahui oleh orang-orang yang merenungi al Qur`an dan memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak ada kebaikan, kebahagiaan, kejayaan, kemuliaan, keselamatan dunia dan akhirat bagi seorang hamba, kecuali dengan mengikuti, mengagungkan dan saling berwasiat dengan al Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala keadaan, serta bersabar dalam melakukan hal itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS al Anfal/8 : 24).
Firman Allah Ta’ala :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl/16 : 97)
Firman Allah Ta’ala :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨)

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS al Munafiqun/63 : 8)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memberikan petunjuk bahwa kehidupan yang baik, tenang serta kejayaan hakiki, hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang menjawab seruan Allah dan Rasul-Nya lalu (mereka) beristiqamah, baik dengan tutur kata maupun dengan amalan nyata. Sedangkan orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, disibukkan dengan yang lain, maka dia senantiasa menderita, gelisah dan kehidupan yang susah, meskipun memiliki dunia seluruhnya. Kemudian dia akan pindah ke adzab yang lebih menakutkan yaitu adzab neraka. Iyadzan billah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya; dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas; dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia, dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS at-Taubah/9 : 54-55)
Firman Allah Ta’ala :

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha/20 : 123-124)
Firman Allah Ta’ala :

إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤)

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS al Infithar/82 : 13-14)

Sebagian ahli tafsir mengatakan, sesungguhnya ayat ini umum Yaitu meliputi keadaan abrar (orang-orang yang sering melakukan kebaikan) dan fujjar (orang-orang yang sering melakukan keburukan), di dunia dan akhirat.

Seorang mukmin akan berada dalam kenikmatan ketika di dunia, kubur dan akhirat, meskipun di dunia dia tertimpa berbagai macam musibah, seperti: miskin, sakit dan lain sebagainya. Sedangkan orang fajir, akan tetap dalam jahim (maksudnya, tetap dalam penderitaan) di dunia, kubur dan akhirat, meskipun dia sudah berhasil menggapai berbagai kenikmatan dunia. (yang semu, Pent.).

Namun itu semua bukanlah kenikmatan hakiki; karena kenikmatan hakiki ialah kesenangan dan ketenangan hati. Seorang mukmin itu dadanya lapang, hati dan perasaannya tenang disebabkan karena keimannya kepada Allah k , tawakkalnya, ketaatannya dan keyakinannya terhadap kebenaran janji Allah Ta’ala .

Sebaliknya orang fajir, disebabkan karena hatinya yang sakit, kebodohannya, keragu-raguannya, berpalingnya dari Allah Ta’ala , hatinya terpecah dengan pernik-pernik dunia dan syahwat, maka dia akan selalu menderita, gelisah dan kelesuan. Akan tetapi, gejolak hawa nafsu dan syahwat, mengakibatkan akalnya menjadi tertutup, tidak bisa memikirkan dan tidak bisa merasakannya.

Wahai kaum muslimin!

Sadarilah tujuan asasi kalian diciptakan. Yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan mentaati-Nya! Pahamilah, dan istiqamahlah di atas jalan itu sampai datang kematianmu. Dengan demikian, kalian akan beruntung dengan mendapatkan kenikmatan abadi dan terhindar dari Neraka Jahim.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Fusshilat/41 : 30-32)
Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣)أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS al Ahqaf/46 : 13-14)

Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon, supaya kami dan seluruh kaum Muslimin dijadikan sebagai bagian dari mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa dan amal perbuatan kita. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Diangkat dari Mukhtarat min Kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ,  halaman 496-501).

sumber : www.bukhari.or.id

Categories: Tazkiyatun Nufus
  1. Juni 11, 2009 pukul 3:59 pm | #1

    assalam…mantap paparan yang jelas dan mudah dipahami..
    syukron akhi..
    kunjungan balik sangat diharapkan

    Wa’alaikumussalam
    Jazakallahu khoiran….
    Toyyib…..!!!Segera ana kunjungi …..

  1. Belum ada trackback.