Dzikir, Membantu Meringankan Masalah
Allah Ta’ala berfirman :
وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي
Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thaha/20:14).
Sesungguhnya dzikir yang dikerjakan seorang hamba merupakan tujuan penciptaan dirinya dan menjadi penyebab bagi kebaikan dan keberuntungannya. Orientasi dari pelaksanaan shalat adalah membidik tujuan luhur di atas. Seandainya tidak ada shalat yang menjadi kewajiban kaum Mukminin yang berulang-ulang dalam sehari semalam untuk mengingatkan mereka kepada Allah, memperhatikan bacaan al Qur`an, melantunkan sanjungan bagi Allah, berdoa kepada-Nya, menunjukkan ketundukan kepada-Nya yang merupakan ruh dzikir, seandainya tidak ada kenikmatan-kenikmatan semacam ini, niscaya kaum Mukminin akan masuk dalam kategori kaum ghafilin (lalai).
Dzikir, selain merupakan tujuan penciptaan para makhluk dan ibadah-ibadah, pada intinya adalah untuk mengingat Allah. Dzikir juga dapat membantu seorang hamba untuk mengerjakan amalan-amalan ketaatan walaupun berat, membantu dalam menghadapi orang-orang yang berperilaku diktator, juga pekerjaan menjadi tidak berat baginya. (Dzikir) juga meringankan (beban)nya saat berdakwah menyeru kepada Allah Ta’ala .
Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman :
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا . وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا
Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. (QS Thaha/20:33-34).
Dan firman-Nya:
اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. (QS Thaha/20:42).
Taisirul-Lathifil-Mannan fi Khulashati Tafsiril-Qur`an,
karya Syaikh ‘Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di (1307-1376 H),
Cetakan III Tahun 1414 H, halaman 185.
karya Syaikh ‘Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di (1307-1376 H),
Cetakan III Tahun 1414 H, halaman 185.
Categories: Tazkiyatun Nufus

















