Beranda > Dakwah > Manhaj Para Rasul Dalam Berdakwah Kepada Allah (bag-2)

Manhaj Para Rasul Dalam Berdakwah Kepada Allah (bag-2)

[3]. Termasuk Manhaj Dakwah Para Nabi Adalah Mendahulukan Yang Terpenting, Kemudian Yang Penting (Membuat Skala Prioritas).
Berdasarkan hal ini, kita melihat para nabi memulai dakwah mereka dengan tauhid. Mereka memulai dengan hal-hal yang mendasar, tidak memulai dari atap, karena orang yang memulai membangun dari atap sebelum fondasi, maka atap itu akan menjatuhi mereka.

Semua para Nabi mengucapkan perkataan seorang Nabi,

“Artinya : Wahai kaumku, sembahlah Allah, kalian tidak memiliki tuhan selain Dia” [Al-A’raf : 64]

Dalam hadits Mu’adz yang telah lewat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarai Mu’adz agar memulai dari yang terpenting. Jika seandainya ada seorang dokter yang hendak mengobati orang sakit dari penyakit yang sangat berbahaya, kemudian mengetahui penyakit lain pada diri si pasien, seperti pilek atau penyakit ringan yang lain, lalu si dokter sibuk menangani penyakit ringan tersebut, sebelum menangani penyakit yang berbahaya, jadilah dokter tersebut menipu pasien. Dokter tersebut membantu proses kematian pasien. Jika ada pasein menderita kekurangan darah, kemudian dokter memulai dengan mengobati luka yang ada pada jari jemari kaki pasien, maka jadilah dokter ini orang jahat dan berperan dalam kematian si pasien, jika sampai pasien itu mati. Karena kewajiban seorang dokter mengobati penyakit yang paling berbahaya serta mengancam kehidupan si pasien.

Orang-orang yang sibuk dengan perkara cabang sebelum perkara tauhid (perkara mendasar yang lain) ibarat dokter yang ingin mengobati orang mati. Atau ibarat orang yang ingin menghidupkan orang mati, atau seperti orang yang membangun atap sebelum pondasai. Alangkah gampangnya ata itu menimpa kepala mereka.

Bagaimanapun lamanya seorang da’i yang menyeru kepada tauhid, tidak boleh merasa bosan dan lelah. Tidak boleh merubah dan mengganti manhajnya, sehingga orang khusus dan awam meridhainya. Akan tetapi wajib baginya untuk tetap konsisten diatas aqidah tauhid dan berdakwah kepada tauhid diatas ilmu dan komitmen padanya sampai mati.

Lihatlah Nabi Nuh selama 950 tahun hanya berdakwah kepada tauhid, menasehati dengan tauhid dan hanya memperingatkan umatnya dari kesyirikan. Selama 950 tahun dan tidak menegakkan panji, tidak merasa lelah dan bosan, hingga sedemikian rupa, tidak beriman kepadanya kecuali sedikit. Demikian juga para Nabi lainnya. Mereka menyeru kepada tauhid bertahun-tahun dan berhari-hari. Tidak mengikuti mereka kecuali seorang atau dua orang. Sebagian mereka datang tanpa seorang pengikutpun. Apakah mereka meninggalkan dakwah tauhid ? Jawabanya : “Tidak”.

Lihatlah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 23 tahun menyeru : “Wahai manusia katakanlah la ilaha ilaa Allah niscaya kalian beruntung”. Sedangkan sebagian da’i berputus asa dan berkata : “Kami telah berdakwah kepada mereka berkali-kali dan mereka tidak mau menerimanya. Kita mesti menyeru mereka kepada politik, demonstrasi dan unjuk rasa”. Lalu meninggalkan manhaj para Nabi dalam berdakwah kepada Allah, sehingga mereka tidak menuai kecuali penyesalan dan penghancuran umat. Mereka menyibukkan umat dalam perkara yang bukan bidangnya. Menyibukkan dengan perkara yang khusus dimiliki para raja dan penguasa, menyibukkan pada selain tujuan penciptaan mereka. Allah berfirman tentang tujuan penciptaan manusia :

“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [Adz-Dzaariyaat : 56]

Mereka telah menyibukkan manusia dengan politik internasional yang kotor dan tidak menegakkan peribadatan mereka. Tidak menjadikan mereka sebagai hamba Rabb, tidak mengajarkan mereka tauhid, sholat dengan rukun, kewajiban, khusus dan sunnahnya. Tidak mengajarkan manusia sesuatu yang berguna bagi mereka dalam agama dan dunianya.

[4]. Seorang Da’i Harus Mejadi Contoh Teladan Yang Baik Bagi Obyek Dakwahnya Dan Menjadi Teladan Pada Dirinya, Karena Jika Tidak Demikian Maka Dakwahnya Akan Menjadi Bencana Baginya Dan Tidak Mendapatkan Orang Yang Mau Mendengarnya.

Jika mereka melihatnya memerintah manusia untuk ikhlas, didapati ia seorang yang berbuat riya’. Jika menyeru manusia untuk tawadlu, didapati dia seorang yang sombong sekali. Jika menyeru manusia untuk sederhana, didapati dia seorang yang paling kikir. Jika menyeru orang untuk berpegang teguh kepada syari’at Islam, tidak memakan riba dan meninggalkan kemaksiatan, mereka melihatnya selalu bermaksiat. Menyeru orang untuk memberikan penutup aurat istri mereka dan memaksa anak-anaknya berjilbab, lalu mereka melihat anak, saudara perempuan dan istrinya berpakaian minim. Bagaimana orang akan berbaik sangka dengan dakwahnya ? Bagaimana mereka mau mendengarkan dan melihat serta mengambil ilmu darinya ? Oleh karena itu teladan yang baik harus dimiliki seorang da’i dalam dakwahnya, jika tidak terdapat hal ini, maka dia tidak akan memiliki pengaruh pada para mad’u, bahkan mereka akan lari dan meninggalkannya.

Dari sini Allah menjadikan para Nabi orang yang paling baik nasab, akhlak dan bentuk tubuhnya. Allah menyelamatkan tubuh mereka dari penyakit yang tidak disukai manusia, seperti penyakit kusta, dan yang lainnya dari penyakit yang menular. Demikian juga Allah memberikan mereka akhlak yang mulia dan memberikan penutup mereka nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akhlak yang paling mulia, Allah khabarkan dalam firmanNya.

“Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]

Ditanya Ummul Mukminin Aisyah tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menjawab kepada penanya : “Wahai anak saudaraku, apakah kamu telah membaca Al-Qur’an ?” dia jawab : “Ya”. Lalu beliau berkata : “Akhlaknya Rasulullah Al-Qur’an”.

Perkataan Aisyah disini telah mencakup semua sifat dan sejarah hidup Rasulllah.

Telah disusun satu kitab tentang kemuliaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 12 jilid dengan judul Nadhratun Na’iim Fi Makaarim Akhlaqir Rasulil Kariim, (telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa). Akan tetapi inipun masih sedikit dari semestinya. Demikian juga seorang penulis barat menulis sebuah buku yang diberi nama : “Seratus Tokoh Dunia Yang Telah Merubah Sejarah”. Dia menjadikan Rasulullah sebagai orang pertama dalam buku tersebut. Sungguh ini adalah persaksian yang benar dari musuh Islam, walaupun sedikit sekali mereka berbuat adil. Akan tetapi dua telah berbuat adil dalam bukunya, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang berjalan dimuka bumi ini dan makhluk terbaik yang Allah ciptakan. Allah mengutusnya untuk menyempurnakan akhlak manusia sebagaimana sabda beliau.

“Artinya : Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para da’i agar menjadi teladan yang baik bagi manusia, Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [Ash-Shaff : 2-3]

Sekarang kalian duduk dalam ceramah ini, lalu datang penceramah dan mengatakan : “rokok haram dan makruh, berbahaya, dapat mengakibatkan penyakit ini dan itu”. Kalin serius sekali mendengarkannya. Ketika kalian mendengarkannya dengan sangat serius, tiba-tiba dia mengeluarkan rokok kreteknya di depan kalian dan mengisapnya. Apa yang akan kalian katakan ? Apakah kalian akan mendengarkan dan memperhatikannya setelah itu ? Niscaya kalian akan mengatakan : “orang ini lebih butuh nasehat dari kita”.

Berapa banyak kemudharatan dakwah mereka ini. Mereka menyeru kepada sunnah, padahal mereka orang yang paling jauh, bahkan melakukan kebid’ahan. Menyeru untuk taat, padahal mereka setiap hari bermaksiat. Merekalah orang yang menyeru kepada sunnah, sekaligus menyembelihnya.

Adapun pakaian mereka, pakaian ala Eropa mengenakan pantaloon yang sempit yang menampakkan auratnya. Kemudian melaknat Amerika dan mengatakan : “Kami memboikot Amerika”, sedangkan kalian mengenakan dasi dan memasang satelit (parabola) di rumah kalian.

Kalau begitu, wahai saudara-saudaraku…
Seorang da’i harus menjadi teladan dalam dakwahnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendidik generasi terbaik, generasi contoh dan teladan. Beliau mendidik para sahabat di atas akhlak yang mulia sehingga mereka lulus dari madrasah kenabian dan bertebaran dipermukaan bumi.

Bangsa Arab tidak masuk negeri kalian ini dengan peperangan, akan tetapi dengan perdagangan. Datang ke negeri ini para sahabat dan tabi’in sebagai pedagang yang membawa akhlak mulia, muamalah yang baik, amanah dan kejujuran. Sehingga penduduk Indonesia ini terpengaruh dan masuk ke dalam agama Islam. Maka sangat perlunya seorang da’i ila Allah untuk menjadi teladan.

“Artinya : Seorang dibawa pada hari kiamat dan dilemparkan ke neraka lalu terburai ususnya di neraka, lalu dia berkeliling seperti keledai, berkeliling pada batu penggilingan, lalu berkumpullah ahli neraka mengelilinginya dan berkata : ‘Wahai fulan, kenapa kamu demikian ? Bukankah kamu memerintahkan kamu kepada kema’rufan dan mencegah kami dari kemungkaran’. Dia menjawab : Memang saya dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan, saya tidak melaksanakannya dan melarang kalian dari kemungkaran dan saya melaksanakannya” [Hadits Riwayat Bukhari]

[5]. Berdakwah Kepada Allah Dengan Hikmah, Nasehat Yang Baik Dan Lemah Lembut Kepada Manusia, Karena Kekasaran, Kekerasan Dan Sikap Arogan Dapat Menjauhkan Manusia Dari Dakwah.

Oleh karena itu para Nabi adalah orang yang paling kasih kepada makhluk dan yang paling mengetahui kebenaran. Sifat ini berpindah kepada Ahlu Sunnah wal Jama’ah pemilik manhaj yang benar. Sebagaimana yang disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam ucapannya : “Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang paling kasih kepada makhluk dan paling mengetahui kebenaran”.

Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya. Nabi yang dicintai sahabat dan umatnya sampai mereka menyerahkan kepadanya jiwa, harta dan anak-anak mereka.

“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah mebulatkan tekad, maka bertakwallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya” [Ali-Imran : 159]

Beliaulah yang memerintahkan untuk berlemah lembut dan melarang kekerasan, dalam sabdanya.

“Artinya : Kelemah lembutan tidaklah ada pada sesuatu, kecuali menghiasinya dan tidak hilang dari sesuatu kecuali merusaknya” [Hadits Riwayat Muslim]

Dan sabda beliau.

“Artinya : Siapa yang tidak memiliki kelembutan maka tidak mendapat kebaikan” [Hadits Riwayat Muslim]

Beliaupun berkata kepada salah seorang sahabatnya.

“Artinya : Sesungguhnya terdapat padamu dua sifat yang Allah dan RasulNya cintai; lemah lembut dan tidak tergesa-gesa” [Hadits Riwayat Muslim]

Demikian juga beliau memperingtakan kekerasan dalam sabdanya.

“Artinya : Sesungguhnya sejelek-jeleknya pengembala adalah yang kasr. Berhati-hatilah jangan sekali-kali kamu menjadi golongan mereka”.

“Artinya : Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang kalian mendo’akan kebaikan padanya dan mereka mendo’akan kebaikan kepadamu. Dan sejelek-jeleknya pemimpin adalah yang kalian melaknatnya dan mereka melaknat kalian”.

Seorang da’i sepatutnya menjadi orang yang memiliki kasih sayang kepada obyek dakwahnya, berlemah lembut dan mengharapkan hihdayah mereka dan tidak mengharapkan kesulitannya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]

sumber: www.almanhaj.or.id

Categories: Dakwah
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.